BALI EXPRESS - Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si dalam buku “Caru Dalam Upacara di Bali” yang dikutif dari laman IHDN Press menyebut tiga jenis segehan, di antaranya:
- Segehan Kepel
Segehan ini memakai alas berupa sebuah taledan (tangkih) yang terbuat dari daun pisang. Di atasnya diisi dua kepel nasi putih. Sedangkan lauknya memakai bawang, jae, dan garam.
Di atasnya dilengkapi dengan sebuah canang genten/canang biasa.
Mengenai jumlah nasinya dapat diubah-ubah. Demikian pula warnanya disesuaikan dengan kepentingan atau kehendak seseorang.
Misalnya, berwarna putih dan kuning, merah, hitam dan sebagainya.
2. Segehan Cacahan
Segehan cacahan memakai alas sebuah taledan (daun) tangkih. Di atasnya diisi 6/7 buah tangkih.
Lima buah diisi nasi putih, sedangkan satunya lagi diisi bija ratus (5 jenis biji-bijian seperti: jagung, jagung nasi, jawa, godem dan jali).
Jika berjumlah 7 buah, tangkih yang satunya lagi diisi beras, base tampel, benang putih dan uang.
Bila mengambil 6 buah tangkih, maka bijaratus dan lain-lainnya itu dijadikan satu tangkih.
Sebagai lauk-pauknya adalah bawang, jae dan garam. Kemudian dilengkapi dengan sebuah cananggenten atau biasa.
Baca Juga: Makna dan Manfaat Segehan: Tiga Kitab Suci Hindu Ungkap Seperti Ini
Seperti pada segehan kepel, maka nasi dari segehan ini dapat pula diwarnai sesuai dengan kepentingannya.
Kedua jenis segehan biasanya digunakan untuk upacara Bhuta-yadnya yang kecil/sederhana, seperti upacara Kajeng Kliwon,
Purnama, Tilem, Piodalan Betara Saraswati, Pagerwesi, Rerahinan alit (ngebulan) di sanggah/di pura, sehabis otonan dan sebagainya.
Untuk upacara dewa yadnya, segehan ini dihaturkan di halaman sanggah, ditujukan ke hadapan Sang Bhuta Bucari. Klo di halaman rumah ditujukan ke hadapan Sang Kala Budari dan di jaba atau di jalan, ditujukan kepada Sang Durga Bucari.
3. Segehan Agung
Segehan agung menggunakan alas yang agak besar. Di Bali biasanya menggunakan nyiru atau tempeh).
Di atasnya diisi 11 atau 33 buah tangkih, masing-masing diisi nasi, lauk-pauk berupa bawang, jae dan garam. Kemudian dilengkapi dengan sebuah daksina.
Perlengkapan daksina ditaruh begitu saja di tempat tersebut, tidak dialasi bakul. Sedangkan kelapanya dikupas sampai bersih.
Sesegehan ini dilengkapi dengan sebuah canang payasan dan 11/33 buah canang genten. Biasanya ditambah dengan jinah sandangan.
Saat menghaturkan segehan ini biasanya disertai dengan penyambleh ayam kecil/itik/babi yang belum dikebiri (kucit butuan) yang masih hidup.
Penggunaan penyamblehan disesuaikan dengan kepentingan dan tampatnya.
Waktu menghaturkan, segala perlengkapan yang ada pada daksina itu dikeluarkan. Sedangkan telur dan kelapanya dipecahkan, diikuti dengan pemotongan penyamblehan dan tetabuhan.
Segehan ini dipergunakan dalam upacara yang agak besar, dan kadang-kadang mempunyai sifat khusus seperti piodalan di pura, menurunkan atau memendak Ida Betara.
Selain itu juga digunakan saat pengukuran tempat untuk suatu bangunan suci, pembongkaran/peletakan batu pertama, untuk suatu bangunan suci dan selalu menyertai upakara Bhuta-yadnya yang lebih besar.
Berikut salah puja mantra pengantar untuk Segehan Agung:
“OM Sang Hyang Purusangkara, anugraha ring Sang Kala Sakti, Sang Hyang Rudra anugraha ring Sang Kala Wisesa, Sang Hyang Durga Dewi, anugraha ring Sang Dengen, ameng-ameng padenira paduka Betara Sakti anunggu ri bhumi, ring pura Parhyangan, natar paumahan, di Dalem pasuguhan wates setra pabayangan, salwir lemah angker, manusa aweh tadah saji sira watek Kala Bhuta kabeh, iti tadah sajinnira sega iwak sambleh, asing kirang asing luput nyata pipis sabundel patukuna sira ring pasar agung, pilih kebelanira-ajaken sangkalanira kabeh, nyah saking kene, apan sira sampun sinaksenan, wehana manusanira urip waras, dirgayusa.”
“OM Kala bhoktaya namah, Bhuta bhoktaya namah, Pisaca bhoktaya namah, Durga bhotaya namah Ucapan waktu menuangkan Tetabuhan. “
“OM ebek segara, ebek danu, ebek banyupramanah ingngulun.”
Editor : Nyoman Suarna