BALI EXPRESS- Otonan atau perayaan hari lahir bagi masyarakat Hindu Bali, merupakan hari sangat sakral dan diupacarai dengan banten khusus.
Namun, ada kalanya, Otonan itu jatuhnya bertepatan dengan hari Purnama dalam kalender Bali.
Baca Juga: Lewat Video Kocak! Seniman Bali Ini Ajak Pemedek Kurangi Sampah Plastik saat Tangkil ke Besakih
Lalu bagaimanakah seharusnya yang dilakukan ketika Otonan nemu Hari Purnama?
Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda menyebut bahwa saat bulan Purnama atau pun Tilem ada pengaruh bulan terhadap bumi.
Gravitasi bulan tinggi pada saat purnama sehingga air tertarik ke permukaan dan terjadilah pasang naik di laut.
Pada diri manusia juga terjadi pasang naik emosi sehingga ketika Purnama, manusia harus ingat dengan tuhan.
Baca Juga: Gempa Besar di Taiwan Picu Peringatan Tsunami di Jepang, Filipina, dan Taiwan
“Maka dari itu tidak boleh ada hubungan suami istri ketika purnama,” ujar Ida Pandita Mpu Acharya Nanda dalam potongan video yang diungah oleh akun Wira.id Channel pada Rabu (03/04).
Lebih lanjut, Ida Pandita menyebut jika ada otonan yang nemu Purnama, yang dilakukan bukanlah membatalkan otonan melainkan menambahkan guling dalam banten otonannya.
Baca Juga: KM Naga Mas Perkasa 58 Kandas di Perairan Lembongan, Begini Nasib Para ABK
“Bukan guling babi, guling itik juga boleh,” jelas Ida Sulinggih.
Hal ini bertujuan untuk penebusan emosi yang naik pada saat Purnama sehingga diturunkan.
“Kalau orang meoton di purnama gak ada yang dibatalkan karena ia yang punya dedinan kenapa mesti dibatalkan. Tetap dilakukan dengan penambahan banten tersebut,” jelas Ida Sulinggih.
Editor : Wiwin Meliana