Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Nyawen di Desa Sukawana: Tradisi Hindu Bali untuk Menegaskan Batas Desa Secara Niskala

I Putu Mardika • Jumat, 5 April 2024 | 01:23 WIB
Bendesa Adat Sukawana, Wayan jasa (ist)
Bendesa Adat Sukawana, Wayan jasa (ist)

BANGLI, BALI EXPRESS - Tradisi Nyawen merupakan ritual sakral yang dilestarikan oleh Desa Adat Sukawana, Kintamani, Bangli. Tradisi Hindu Bali, ini dilakukan oleh Daha Truna, sebutan bagi pemuda-pemudi desa yang masih suci, sebagai bagian dari rangkaian upacara Ngusabha Dalem.

Dalam kepercayaan masyarakat setempat, para Daha Truna dianggap sebagai individu yang masih murni.

Tradisi Nyawen ini memanfaatkan sarana khas bernama Sawen, yang terbuat dari batang pohon kacing landa, sebuah simbol yang melambangkan penjagaan dan penentuan batas suatu wilayah.

Hal ini wajar karena pohon tersebut dianggap suci dan tumbuh subur di wilayah Desa Sukawana.

Menurut Bendesa Adat Sukawana, Wayan Jasa, Tradisi Nyawen melibatkan para Daha dan Truna yang berusia antara 15 hingga 18 tahun, dan dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian upacara Ngusabha Dalem di desa tersebut.

Upacara Nyawen sendiri dilakukan pada Purnama Sasih Kapitu.

Sebelum acara Nyawen dimulai, terlebih dahulu dilakukan upacara wali di Pura Sang Pasek atau Ratu Pacek, dimulai dari pagi hingga sekitar pukul 09.00 WITA.

Warga laki-laki yang sudah berkeluarga wajib membawa ayam pejantan untuk diadu di Pura tersebut.

Selain itu, sebelum wali dimulai, para dulun Desa atau para Dane Jero Kubayan melakukan persembahan banten dan segehan.

Setelah itu, ayam-ayam tersebut diadu, dan setelah pukul 09.00 WITA, acara dilanjutkan di Pura Desa atau Pura Baleagung Desa Sukawana.

Selama tujuh hari, upacara dilaksanakan dengan puncaknya pada acara nyaagang, di mana seekor sapi jantan dipotong di tempat.

Upacara ini mengusung konsep Siwa Budha, dengan Pura Dalem Baleagung sebagai pusat spiritual.

Setelah upacara selesai, dilakukan sangkepan Kliwon, yang melibatkan rapat bersama masyarakat dan prajuru desa untuk menyiapkan upacara ngambing, di mana seekor kambing dipotong di Pura Tengayang sebagai penghormatan kepada leluhur yang telah meninggal.

Upacara ini di pimpin oleh Jero Kubayan Kiwa Tengen Desa Sukawana.

 Setelah itu, dilakukan upacara Ngampad (bersih-bersih) dari ujung batas utara Desa Sukawana dengan Desa Bantang, serta batas selatan dengan Desa Kintamani.

“Nah dari ujung selatan dari batas Desa Sukawana dengan Desa Kintamani dan di sepanjang sekitar pura Dalem Desa Sukawana,” paparnya.

Malam harinya, Tradisi Nyawen dilaksanakan, di mana Sawen (tanda) dipasang di setiap depan pekarangan rumah dan batas desa.

Tradisi ini bertujuan untuk menegaskan batas desa secara spiritual, sehingga leluhur tidak kesulitan menemukan rumah mereka di alam lain.

Tradisi Nyawen dilakukan dengan penuh kekhusyukan oleh para Daha Truna di Pura Dalem, serta pada batas utara Desa Sukawana dengan Desa Bantang dan batas selatan dengan Desa Kintamani.

Hal ini dipercayai sebagai bentuk penghormatan terhadap spiritualitas dan kearifan lokal.

Upacara Nyawen:

Rangkaian Upacara:

  1. Wali: Dilakukan di Pura Sang Pasek/Ratu Pacek dan Pura Desa/Baleagung selama 7 hari.
  2. Sangkepan Kliwon: Rapat prajuru desa dan para dulun desa untuk persiapan upacara ngambing.
  3. Upacara Ngambing: Di Pura Tengayang untuk memohon restu Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan leluhur.
  4. Ngampad: Pembersihan dari ujung batas desa utara, selatan, dan pura Dalem oleh Daha Truna.
  5. Nyawen: Penanaman sawen di depan pekarangan rumah dan batas desa.

Baca Juga: Menakjubkan! Pura Goa Peteng Alam Tunjung Mekar: Pesona Tersembunyi Jimbaran Bali yang Wajib Dikunjungi, Bisa Melukat di Sana

Makna Tradisi Nyawen:

 

Editor : I Putu Suyatra
#ritual #bali #Kintamani #Desa adat Sukawana #sakral #bangli #hindu #tradisi