Tradisi Hindu Bali Mebayuh Oton: Menyejukkan Diri dan Menetralisir Karma dan Penjelasan Makna Guwungan
I Putu Mardika• Sabtu, 6 April 2024 | 18:38 WIB
Mebayuh oton dalam Hindu Bali.
SINGARAJA, BALI EXPRESS - Masyarakat Hindu di Bali memiliki tradisi unik bernama mebayuh oton (di Buleleng disebut metubah). Tradisi ini bertujuan untuk menyejukkan diri dari hal-hal negatif dan menetralisir karma buruk.
Istilah 'bayuh' mirip dengan 'dayuh' dan sinonim dengan 'ayuh', yang artinya menyegarkan.
Tujuan utama dari tradisi ini adalah untuk memberikan kesegaran spiritual bagi manusia, membantu menetralkan beban bawaan yang keras atau panas dari saat lahir.
Dosen STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Ketut Agus Nova, yang biasa disapa Jro Anom, menjelaskan bahwa bayuh oton dianggap sebagai momen penting untuk menetralkan penderitaan bawaan sejak lahir.
"Tidak jarang upacara bayuh oton dilakukan dalam kondisi tertentu seperti gangguan jiwa, penyakit kronis, atau sering mengalami kesialan atau kecelakaan," ungkapnya.
Tujuan utama dari pelaksanaan bayuh oton adalah untuk membersihkan seseorang dari dampak buruk tanggal lahir dan karma yang merugikan.
Selain itu, Jro Anom juga menyatakan bahwa bayuh oton memiliki potensi untuk memperbaiki karakter anak-anak.
Dia mengatakan bahwa masyarakat Hindu Bali percaya bahwa karakter seseorang bisa terbentuk sejak lahir, dan jika ada utang atau beban saat lahir, akan mempengaruhi karakter mereka saat dewasa.
"Oleh karena itu, upacara bayuh oton dianggap penting sebagai sarana untuk membersihkan dan menyempurnakan karakter yang telah dibawa sejak lahir," jelasnya.
Jro Anom juga menjelaskan bahwa pelaksanaan upacara bayuh oton dapat bervariasi tergantung pada berbagai faktor termasuk waktu, tempat, dan alat yang digunakan.
Faktor-faktor ini ditentukan berdasarkan perhitungan astrologis seperti pancawara, saptawara, dan pawukon.
Ini menunjukkan bahwa tradisi ini tidak hanya merupakan warisan budaya, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan kesesuaian dengan kebutuhan individu.
Makna Bayuh Oton:
Menetralisir derita bawaan sejak lahir
Mengurangi pengaruh Sad Ripu (sifat-sifat keraksasaan)
Menghilangkan kesakitan dan kesialan
Memperbaiki karakter anak
Menyelamatkan manusia dari akibat keburukan hari lahir dan karma phala
Waktu Pelaksanaan:
Dapat dilakukan kapan saja
Biasanya dilakukan pada kondisi tertentu, seperti:
Kelainan jiwa
Sakit berkepanjangan
Sering dirundung kesialan atau kecelakanaan
Tempat Mebayuh Oton dan Syarat Pesertanya
Jro Anom menyatakan dalam Lontar Wraspati Kalpa bahwa lokasi pelaksanaan mebayuh bervariasi tergantung pada perhitungan pancawara, saptawara, dan pawukon.
Sebagai contoh, seseorang yang lahir pada hari Redite (Minggu) dikenai pengaruh Dewa Sang Hyang Indra.
Di Paibon, soroh 5 (lima), dengan Sesayut Kusumajati, Air 16 warna, dan Puja Marga gamana menjadi bagian dari upacara Bebayuhan yang wajib dilakukan.
Menurut Wraspati Kalpa, tempat-tempat untuk melakukan pemayuhan termasuk di kandang sapi, pohon jeruk, sungai, campuhan, dan pantai.
Jika mebayuh oton dilakukan di dapur, ini menandakan pengaruh Bhatara Brahma. Sementara jika dilakukan di laut, pengaruhnya adalah Dewa Baruna.
Lokasi pemayuhan selalu disesuaikan dengan hari kelahiran seseorang.
Dalam wawancara dengan Bali Express (Jawa Pos Group), Jro Anom menjelaskan bahwa mebayuh oton adalah kewajiban bagi setiap individu, dan dapat dilakukan sebanyak tiga hingga lima kali selama hidupnya.
"Intinya, seseorang dapat mebayuh setelah mencapai usia yang memungkinkan untuk melakukan nunas tirta," katanya.
Tempat Mebayuh:
Berbeda-beda berdasarkan perhitungan pancawara, saptawara, dan pawukon.
Contoh:
Lahir pada Redite (Minggu): di Paibon, soroh 5 (lima), dengan Sesayut Kusumajati, Air 16 warna, dan Puja Marga gamana.
Tempat lain: kandang sapi, pohon jeruk, sungai, campuhan, pantai.
Menurut Jro Anom, ada beberapa sarana yang digunakan dalam mebayuh seperti banten peras pejati, dapetan, sesayut, jerimpen, banten penyambutan, serta sesayut yang sesuai dengan pawetuan.
Sumber air suci juga bervariasi, termasuk danau, campuhan, kelebutan, sungai, pancoran, dan segara.
Dalam menjelaskan prosesinya, Jro Anom menyebutkan bahwa ritual mebayuh oton dimulai dengan ngastawa tirta, dilanjutkan dengan pangrersik, matur piuning, nebus ulap ambe yang dibayuh, dan kemudian diakhiri dengan natab segala jenis banten.
Banten yang Diperlukan:
Banten peras pejati
Dapetan
Sesayut
Jerimpen
Banten penyambutan
Sesayut sesuai pawetuan
Jenis Mata Air:
Danau
Campuhan
Kelebutan
Sungai
Pancoran
Segara
Prosesi Upacara:
Ngastawa tirta
Menjalankan pangrersik
Matur piuning
Nebus ulap ambe yang dibayuh
Natab segala jenis banten
Makna Guwungan dan Ayam dalam Upacara Mebayuh Oton
Setiap kali upacara mebayuh oton dilakukan, hal yang penting adalah kehadiran guwungan atau sangkar ayam.
Menurut Jro Anom, guwungan memiliki makna yang mendalam sebagai simbol dari asta aiswarya, yakni delapan kemahakuasaan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
"Hal ini mengajarkan manusia untuk merendahkan diri dan menyadari keagungan Tuhan, serta mengabdikan diri dalam memuja kemahakuasaan-Nya," ungkapnya.
Selain sebagai lambang asta aiswarya, guwungan juga memiliki makna lain yang penting, yaitu memfasilitasi pembebasan dari segala kesialan dan penyakit yang ada dalam bhuana alit atau dunia fisik manusia.
"Biasanya, saat dikurung dalam guwungan, seseorang yang menjalani mebayuh oton akan membawa ayam hidup," jelas Jro Anom.
Menurut Jro Anom, warna ayam hidup tersebut disesuaikan dengan panca wara.
"Sebagai contoh, jika seseorang lahir pada hari Redite Umanis, maka ayam yang digunakan harus berwarna putih, sesuai dengan makna astrologisnya," jelasnya.
Guwungan:
Simbol asta aiswarya (delapan kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa)
Manusia harus tunduk dan menyadari kemahakuasaan Tuhan
Kesialan, sakit, dan hal negatif keluar dari bhuana alit (badan manusia)
Ayam:
Masih hidup
Warna disesuaikan dengan panca wara
Contoh: Redite Umanis (lahir pada Minggu) menggunakan ayam berwarna putih
Penjelasan:
Guwungan melambangkan kemahakuasaan Tuhan dan mengingatkan manusia untuk selalu memujanya.
Guwungan juga berfungsi untuk mengeluarkan kesialan, sakit, dan hal negatif dari badan manusia.
Warna ayam yang digunakan dalam upacara disesuaikan dengan panca wara kelahiran orang yang dibayuh.