BALI EXPRESS - Lontar Tutur Gong Besi memaparkan bahwa tugas seorang pandita Hindu tidaklah mudah.
Seorang pandita Hindu juga dianjurkan untuk senantiasa berbuat yang baik dan berkata yang baik.
Selain itu juga melaksanakan tapa, bratha, yoga dan semadhi untuk mempertahankan serta meningkatkan kesucian dirinya.
Dosen Fakultas Brahmawidya, UHN I Gusti Bagus Sugriwa, Hari Harsananda menjelaskan, semasa masih walaka, calon sulinggih atau pandita Hindu wajib mempelajari berbagai ilmu pengetahuan.
Sebab, ilmu pengetahuan ini akan digunakan untuk membantu umat Hindu menyelesaikan permasalahannya.
Ilmu pengetahuan tersebut di antaranya tentang wariga atau padewasan.
Calon sulinggih juga harus memahami ajaran-ajaran agama dan tata tertibnya, kelompok usadha atau ilmu pengobatan, ilmu bangunan atau kosala-kosali, kelompok asta dasa parwa sampai dengan manutattwa.
Calon pandita wajib memahami asal usul kata seperti krakah, griguh dan durdakah serta tata bahasa seperti ekalawya, kawi Janaki dan dasa nama yang dilengkapi tattwa rencana dan kelompok tattwa dyatmika sebagai penyerta bagi wijnana.
Saat melinggih, pandita yang telah melaksanakan swadharmanya dalam Tutur Gong Besi dinyatakan boleh menyucikan roh orang meninggal. Atau seorang pandita sah melakukan upacara pitra yadnya.
Di samping itu, diingatkan pula bahwa penyucian diri yang utama adalah melakukan tapa, brata, yoga, samadhi.
Hal tersebut dilakukan, bukan menggunakan sarana banten, karena banten hanya akan menyucikan secara sekala, sedangkan sadhana yang dilakukan akan menyucikan niskala.
Tugas seorang pandita dalam menyelesaikan upacara ngaben tidak hanya sebatas memimpin upacara.
Namun pandita harus memahami makna sunya sehingga mampu mengantarkan roh dari orang yang diupacarai mengalami peningkatan kualitas dari Preta menjadi Pitara sebagai suatu keberhasilan dalam upacara ngaben. (*)
Editor : Nyoman Suarna