BALI EXPRESS - Hari Raya Kuningan begitu khidmat dirayakan oleh Desa Adat Kebonjero, Desa Munduktemu, Kecamatan Pupuan, Tabanan.
Pada hari raya Kuningan ini, krama menggelar tradisi Ngeningang Raga sebagai bentuk menjernihkan dan membersihkan badan secara jasmani dan rohani.
Prosesi rangkaian hari raya umat Hindu ini dilaksanakan di Catus Pata Desa.
Perbekel Desa Munduktemu, Gusti Made Arsana menjelaskan, Ngeningang Raga merupakan tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Adat Kebonjero secara turun temurun.
Tradisi Ngeningang Raga ini merupakan momentum untuk melakukan introspeksi bagi krama Desa Adat Kebonjero.
“Ngeningang berasal dari kata Ning berarti jernih, yang dimaknai sebagai menjernihkan atau membersihkan badan atau tubuh baik secara jasmani atau rohani,” jelasnya.
Prosesi Ngeningang Raga diikuti oleh seluruh krama (warga) Desa Adat Kebonjero.
Jika krama berhalangan hadir karena sesuatu hal, biasanya diberikan tirta yang didapatkan usai persembahyangan.
Hal ini menandakan bahwa tradisi tersebut amat penting, umumnya bagi Desa Adat Kebonjero, khususnya krama desa.
SEjarah tradisi Ngeningang Raga bermula dari munculnya kegelisahan krama di tengah berbagai permasalahan sosial yang terjadi.
Berbagai permasalahan sosial yang menyangkut sekala (nyata) dan niskala (gaib) tersebut memerlukan penyelesaian.
Penyelesaian secara sekala bisa diselesaikan dengan cara-cara nyata. Namun permasalahan menyangkut niskala, sulit untuk dijawab.
Akhirnya, dengan kuatnya keyakinan, krama desa adat sepakat melakukan persembahyangan bersama di Catus Pata atau Pempatan Agung, sebagai titik pusat desa setempat.
“Persembahyangan ini kemudian dinamakan Ngeningang Raga. Krama secara tulus pasrah dan berserah kepada Tuhan,” ungkapnya.
Prosesi Ngeningang Raga diawali dari matur piuning dan nunas tirta di Tri Kahyangan. Kemudian menghaturkan banten ring Catus Pata, penyucian area ritual, persembahyangan bersama lalu ngalebar.
Seluruh tahapan melibatkan prajuru maupun krama desa adat.
Seluruh krama cukup antusias mengikuti ritual yang biasanya dilaksanakan mulai pukul 08.00 WITA pagi.
Mulai dari anak-anak, dewasa, hingga lansia berkumpul di sekitar palinggih Catus Pata.
Tiap keluarga membawa sarana persembahan, seperti banten atau minimal canang.
Ketika tahap persiapan persembahyangan selesai, bendesa adat menjelaskan makna tradisi yang telah dilaksanakan secara turun temurun tersebut.
Setelah itu, barulah dilakukan persembahyangan secara khusyuk.
Sesuai namanya, makna dari tradisi ini adalah menjernihkan pikiran dan batin, sehingga suasana benar-benar hening.
Setiap krama diarahkan melakukan introspeksi dan evaluasi diri atas segala karma atau perbuatan yang telah dilakukan.
Baca Juga: Tiga Jenis Pandita Hindu Menurut Lontar Tutur Gong Besi: Yang Terakhir Wajib Miliki Kepekaan Jnana
“Setelah itu menguatkan tekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang dilakukan, serta memohon bimbingan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sehingga kualitas diri kian meningkat,” pungkasnya. (*)
Editor : Nyoman Suarna