Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Membangun Rumah Umat Hindu di Bali: Dari Turus Lumbung hingga Merajan

I Putu Suyatra • Rabu, 10 April 2024 | 00:14 WIB

PEMERAJAN : Merajan merupakan tempat suci umat Hindu di masing-masing rumah.
PEMERAJAN : Merajan merupakan tempat suci umat Hindu di masing-masing rumah.

BALI EXPRESS - Masyarakat Hindu di Bali memiliki konsep sederhana dalam membangun rumah, berlandaskan warisan Mpu Kuturan dengan sistem utama (utama), madya (medium) dan nista (sederhana).

Menurut Pinandita I Ketut Pasek Swastika dari konsep warisan Mpu Kuturan tersebut, terdapat istilah hulu, tengah, dan teben.

Selain membagi pekarangan menjadi empat bagian, konsep ini juga membagi pekarangan menjadi sembilan, dari utamaning utama hingga nistaning nista, meskipun kemudian disederhanakan menjadi empat, yaitu Sri, Aji, Kala, dan Rudra.

Langkah Pertama: Membangun Turus Lumbung

Sebelum membangun merajan, masyarakat Hindu di Bali biasanya membuat sanggah sederhana bernama Turus Lumbung.

Terbuat dari pohon dapdap ("taru sakti"), Turus Lumbung melambangkan pelindung dan sumber kehidupan.

Bentuknya sederhana, dengan tiang kayu dapdap dan atap bambu untuk meletakkan banten.

Fungsi dan Durasi Penggunaan Turus Lumbung

Fungsi Turus Lumbung adalah "melindungi dan menghidupi pemujanya".

Durasi penggunaannya beragam, dari enam bulan, tiga tahun, hingga pemilik rumah mampu membangun merajan permanen.

Baca Juga: Punya Enam Belas Musuh, Sulinggih Hindu Ibarat Tukang Cuci Hingga Pedagang Kapur: Ini Tantangannya

Hal ini menunjukkan prioritas masyarakat Hindu terhadap Tuhan dan leluhur.

Membangun Merajan: Pusat Spiritual Rumah

Merajan merupakan tempat suci di rumah, di mana umat Hindu memuja Tuhan, Dewa-dewa, dan leluhur.

Konsep merajan tertuang dalam Lontar Ithi Prakerthi dan terbagi menjadi empat jenis, berdasarkan jumlah palinggih:

Palinggih-Palinggih di Merajan

Selain palinggih utama, terdapat pula palinggih pasimpangan untuk memuja Ida Bhatara tertentu. Hal ini dilakukan karena kendala wilayah dan jarak pada zaman dahulu.

Merajan untuk Satu Rumah Tangga: Sanggah Pakamulan

Sanggah pakamulan adalah merajan untuk satu rumah tangga, terdiri dari tiga palinggih pokok:

Baca Juga: Tiga Jenis Pandita Hindu Menurut Lontar Tutur Gong Besi: Yang Terakhir Wajib Miliki Kepekaan Jnana

Kesimpulan

Membangun rumah di Bali bukan hanya soal fisik, tetapi juga spiritual. Merajan sebagai pusat spiritual rumah mencerminkan nilai-nilai religius dan budaya masyarakat Hindu di Bali. *** 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #merajan #hindu #mpu kuturan #pekarangan