DENPASAR, BALI EXPRESS - Bagi masyarakat Hindu di Bali, leluhur bukan hanya pendahulu yang dimuliakan, tetapi juga pembimbing spiritual dan pelindung keturunannya.
Oleh karena itu, penghormatan terhadap leluhur tidak hanya dilakukan saat mereka masih hidup, tetapi juga setelah mereka meninggal.
Penghormatan Melalui Upacara dan Merajan
Proses ngaben dan memukur merupakan ritual penting untuk mengantarkan roh leluhur kembali ke Sang Pencipta.
Setelah itu, roh leluhur distanakan di Rong Tiga, simbol kedekatan keturunan dengan leluhur yang telah tiada.
Penghormatan terhadap leluhur juga diwujudkan melalui keberadaan Sanggah Kamulan.
Baca Juga: Membangun Rumah Umat Hindu di Bali: Dari Turus Lumbung hingga Merajan
Setiap rumah tangga Hindu di Bali diimbau memiliki Sanggah Kamulan, sesuai arahan Mpu Kuturan dalam Lontar Ithi Prakerthi.
Sanggah Kamulan merupakan tempat pemujaan leluhur melalui simbolisasi stana dalam bentuk palinggih.
Manfaat Menghormati Leluhur
Ktut Soebandi dalam bukunya "Riwayat Merajan di Bali" menjelaskan bahwa salah satu manfaat memuliakan leluhur adalah untuk menghindari kepongor atau terkutuk.
Hal ini berarti melupakan leluhur dapat mengakibatkan lupa dengan sanak saudara, bahkan menimbulkan perselisihan.
Baca Juga: Ragam Palinggih di Merajan Umat Hindu di Bali: Sebuah Penjelasan
Merajan dan Sanggah Kamulan: Media Pengenalan Sejarah dan Kekeluargaan
Merajan atau Sanggah Kamulan bukan hanya tempat pemujaan Tuhan dan leluhur, tetapi juga media pengenalan sejarah dan kekeluargaan.
Dengan mengenal sejarah leluhur, masyarakat Bali akan mengenal saudara-saudaranya dan memperkuat rasa kekeluargaan.
Bagi yang Belum Mampu Mendirikan Merajan
Baca Juga: Uniknya Tradisi Ngeningang Raga di Desa Kebonjero Bali: Sarat Makna dan Sejarah yang Patut Ditiru
Bagi yang belum mampu mendirikan merajan atau Sanggah Kamulan, dapat membuat tempat pemujaan sederhana dalam bentuk pelangkiran. ***