Fenomena Ngiring di Bali: Antara Kepercayaan dan Realitas
I Putu Suyatra• Rabu, 10 April 2024 | 15:14 WIB
Jro Wahyu membagikan kisah spritualnya sebelum memutuskan untuk Ngiring
DENPASAR, BALI EXPRESS - Ngiring, sebuah fenomena yang sering dijumpai dalam masyarakat Hindu di Bali, kembali menjadi perbincangan hangat.
Banyak orang mengaku Ngiring, dan tak jarang dikaitkan dengan berbagai kejadian, baik positif maupun negatif.
Apa itu Ngiring?
Ngiring berasal dari kata "iring" yang berarti mengikuti atau menyertai.
Dalam konteks ini, Ngiring mengacu pada seseorang yang diyakini dirasuki oleh roh dewa atau leluhur.
Orang-orang yang melakukan Ngiring sering kali dianggap sebagai orang-orang terpilih, seperti penari khusus (Tapakan) atau dukun (Balian), yang dipercaya memiliki kedekatan spiritual dengan Tuhan atau dewa-dewa.
Mereka biasanya menunjukkan perilaku yang berbeda dari biasanya, seperti menari, berbicara dengan bahasa yang tidak dikenal, atau bahkan melakukan tindakan yang berbahaya.
Benarkah Ngiring selalu positif?
Menurut Guru Mangku Hipno, seorang praktisi spiritual dan pakar hipnosis, Ngiring bisa positif maupun negatif.
Ngiring yang positif biasanya terjadi pada orang yang memiliki tujuan spiritual dan ingin meningkatkan kualitas hidupnya.
Namun, ada juga orang yang mengaku Ngiring hanya untuk mencari sensasi atau bahkan keuntungan pribadi. Hal ini tentu saja perlu diwaspadai.
Bagaimana membedakan Ngiring yang benar dan tidak?
Menurut Guru Mangku, ada beberapa ciri-ciri orang yang Ngiring secara benar, antara lain:
Memiliki sifat dan perilaku yang baik
Hidupnya semakin damai dan sejahtera
Tidak meminta-minta atau memanfaatkan orang lain
Sedangkan orang yang Ngiring secara tidak benar biasanya menunjukkan ciri-ciri seperti:
Perilakunya menjadi aneh dan tidak terkontrol
Sering meminta-minta uang atau bantuan kepada orang lain
Mengaku memiliki kekuatan sakti
Bagaimana menyikapi fenomena Ngiring?
Penting untuk tidak langsung percaya begitu saja ketika seseorang mengaku Ngiring. Kita perlu melihat bukti dan ciri-cirinya terlebih dahulu.
Jika Anda merasa atau melihat orang yang menunjukkan gejala Ngiring, sebaiknya konsultasikan dengan orang yang ahli di bidang spiritual atau medis.
Dalam konteks penyembuhan dan praktik spiritual, Guru Mangku Hipno menggunakan pendekatan holistik yang menggabungkan unsur modern dan tradisional.
Baginya, Ngiring bukan hanya sekadar permohonan kepada Tuhan atau dewa-dewa, tetapi juga sebuah proses pribadi yang melibatkan introspeksi, pertobatan, dan permohonan atas bimbingan ilahi.
Kesimpulan:
Fenomena Ngiring adalah bagian dari budaya dan kepercayaan masyarakat Hindu di Bali. Penting untuk memahami Ngiring secara objektif dan tidak mudah terjebak oleh sensasi atau penipuan.
Dengan demikian, fenomena Ngiring menjadi bukti keberagaman dan kedalaman spiritual masyarakat Bali.
Meskipun terkadang mengundang kontroversi dan keraguan, Ngiring tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya dan keyakinan spiritual yang kaya di pulau Dewata tersebut. ***