Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Rahasia Harmoni Rumah Bali: Mengungkap Penataan Bangunan yang Mendukung Ketenangan dan Kenyamanan

I Putu Suyatra • Rabu, 10 April 2024 | 21:28 WIB

ilustrasi
ilustrasi

BALI EXPRESS - Ketenangan dan kenyamanan merupakan kunci utama dalam membangun sebuah rumah. Salah satu faktor penentunya adalah penataan bangunan yang sesuai dengan konsep tradisional Bali.

Mengacu pada tradisi tata ruang pekarangan di Bali yang mengikuti Astha Kosala kosali dan Astha Bhumi, berbagai bangunan memiliki fungsi dan penempatan yang khas.

Bangunan suci seperti mrajan atau sanggah, menjadi titik pusat pemujaan bagi Tuhan dan leluhur masyarakat Bali.

Bale Meten atau Bale Daja, misalnya, terletak di bagian utara pekarangan dan digunakan untuk keperluan tidur keluarga serta upacara keagamaan.

Sedangkan Bale Dangin atau Bale Gede, yang biasanya terletak di bagian timur, difungsikan khusus untuk upacara keagamaan.

Begitu pula dengan Bale Dauh, Loji, atau Tiang Sanga yang berperan sebagai tempat menerima tamu dan penginapan bagi anak-anak yang sudah dewasa.

Di bagian selatan pekarangan terdapat Bale Delod yang berfungsi ganda sebagai tempat menerima tamu dan ruang upacara adat, serta Jineng atau Lumbung yang berperan sebagai tempat penyimpanan hasil panen.

Selanjutnya, Paon atau dapur terletak di sebelah barat bale delod, memastikan kenyamanan saat memasak bagi keluarga.

Meskipun demikian, dalam era modern dengan keterbatasan ruang, penyesuaian menjadi kunci.

Pinandita Drs. I Ketut Pasek Swastika menekankan bahwa penyesuaian tersebut bisa dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip tradisional dalam skala yang lebih kecil.

"Misalnya, dengan menciptakan ruang pemujaan dalam rumah yang terbatas atau menyesuaikan arah dapur dengan prinsip-prinsip keagamaan," ungkapnya.

Penting untuk diingat bahwa fondasi bangunan dan penempatan ruang memiliki peran penting dalam menciptakan harmoni.

Oleh karena itu, penggunaan ukuran dan penempatan yang tepat sesuai dengan tradisi lokal menjadi hal yang ditekankan.

Dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip tersebut, diharapkan rumah tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi tempat yang menginspirasi kedamaian dan keharmonisan bagi penghuninya.

Berdasarkan sistem tata ruang pekarangan di Bali, terdapat beberapa bangunan dengan fungsi berbeda-beda. Di antaranya:

1. Bangunan Suci: Merajan dan Panunggun Karang

2. Bale Meten/Daja:

3. Bale Dangin/Gede:

4. Bale Dauh/Loji/Tiang Sanga:

5. Bale Delod:

6. Jineng/Lumbung:

7. Paon/Dapur:

Penyesuaian di Era Modern:

Di zaman modern, membangun rumah sesuai konsep tradisional Bali dengan pekarangan luas mungkin sulit dilakukan.

Baca Juga: Membangun Rumah Umat Hindu di Bali: Dari Turus Lumbung hingga Merajan

Pinandita Drs. I Ketut Pasek Swastika memberikan solusi penyesuaian untuk areal pekarangan yang sempit:

1. Merajan:

2. Kamar Tidur:

3. Dapur:

4. Kamar Mandi:

5. Palinggih Panunggun Karang:

6. Garasi dan Tempat Bersantai:

Baca Juga: Ingin Jadi Pandita Hindu? Lontar Tutur Gong Besi Ungkap Rahasia Sulinggih: Terpenting Pahami Konsep Panca Geni

Tinggi Fondasi:

Perhitungan Tinggi Fondasi:

Kesimpulan:

Menata rumah modern dengan konsep tradisional Bali tetap bisa dilakukan dengan penyesuaian dan memperhatikan kearifan lokal.

Carlo Ancelotti
Carlo Ancelotti
Pep Guardiola salut dengan penampilan skuadnya di Santiago Bernabeu.
Pep Guardiola salut dengan penampilan skuadnya di Santiago Bernabeu.
Editor : I Putu Suyatra
#bali #merajan #Penataan #tradisi #tata ruang #asta kosala kosali #pekarangan