Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Rahasia Di Balik Tradisi Ngoncang, Salah Satu Tradisi Unik Hindu Bali: Suara Riuh yang Menggerakkan Cakra Yadnya

I Putu Suyatra • Kamis, 11 April 2024 | 02:33 WIB
Ngoncang, salah satu tradisi Hindu Bali di Tabanan.
Ngoncang, salah satu tradisi Hindu Bali di Tabanan.

TABANAN, BALI EXPRESS - Umat Hindu di Pulau Bali terus menjaga warisan budaya mereka dengan menjalankan tradisi-tradisi kuno yang masih memikat hingga hari ini.

Salah satu yang paling menarik perhatian adalah Tradisi Ngoncang, sebuah ritual yang tidak hanya mempesona tetapi juga penuh dengan makna yang dalam.

Tradisi Ngoncang menjadi wajib bagi umat Hindu di wilayah Tabanan saat melangsungkan upacara Ngaben.

Dalam upacara yang penuh makna ini, Tradisi Ngoncang tidak hanya sekadar seremoni, tetapi sebuah keharusan yang dipandang sebagai bagian integral dari penyelenggaraan Ngaben.

Ngoncang bukanlah sembarang ritual. Dilakukan secara berkelompok, dengan lima hingga sepuluh orang yang membawa elu, tiap langkah ritual ini terasa dihati.

Para peserta mengambil bagian dalam menumbuk elu mereka pada kentungan atau Lesung, menghasilkan suara yang dinamis dan harmonis yang mengisi udara, sering kali dilakukan oleh para ibu yang penuh pengabdian.

Tak hanya terbatas pada upacara Ngaben, Ngoncang juga sering terdengar dalam ritual Maotonan (Sapuh Leger).

Setiap irama yang tercipta di dalamnya sarat dengan makna sakral, sebuah pesan tersembunyi yang dipercaya membawa harmoni dan keselarasan.

Menurut tokoh Hindu di Tabanan, I Wayan Tontra, Tradisi Ngoncang bukan sekadar ritual, tetapi sebuah gerakan untuk mengaktifkan Cakra Yadnya.

Ini tentang menjalin sinergi antara semua pelaku dan komponen Yadnya untuk menciptakan keberhasilan yang bermanfaat bagi masyarakat Hindu.

“Ngoncang berasal dari kata gaguncangan yang berarti suara yang riuh. Suara ini harus jelas dan terang, sebagai komunikasi dengan lingkungan, para roh, dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tri Hita Karana),” ungkapnya dengan tegas.

Tradisi Ngoncang telah menjadi bagian dari sejarah Bali sejak pengaruh Hindu pertama kali tiba di pulau ini pada abad ke-4.

Lebih dari sekadar ritual, Ngoncang juga dianggap sebagai sarana untuk mencapai keseimbangan hidup antara dunia material dan spiritual, membersihkan segala yang kotor.

Dalam gerakan ini, para leluhur dihantarkan dengan hormat ke alam surga.

Dengan semua kekayaan makna dan warisan budaya yang dibawa oleh Tradisi Ngoncang, jelas bahwa ritual ini tidak hanya tentang tradisi, tetapi juga tentang penghormatan, keselarasan, dan perjalanan spiritual yang mendalam bagi umat Hindu di Bali.

Keunikan Tradisi Ngoncang:

Tradisi Ngoncang menjadi bukti kekayaan budaya dan spiritualitas umat Hindu di Bali.

Baca Juga: Rahasia Harmoni Rumah Bali: Mengungkap Penataan Bangunan yang Mendukung Ketenangan dan Kenyamanan

Tradisi ini tidak hanya dilestarikan sebagai warisan budaya, tetapi juga memiliki makna mendalam dalam mengantarkan roh leluhur menuju alam baka. ***

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #Tri Hita Karana #yadnya #ngaben #Cakra #hindu #tradisi #leluhur #sapuh leger #tabanan