Ritual Hindu Bali Menek Sumbu: Pembersihan Diri Penuh Makna bagi Anak Gadis Pertama di Desa Timbrah
I Putu Mardika• Jumat, 12 April 2024 | 22:12 WIB
Tradisi Menek Sumbu di Desa Timbrah, Kecamatan/Kabupaten karangasem (ist)
KARANGASEM, BALI EXPRESS - Di Desa Timbrah, Kecamatan Karangasem, terdapat tradisi unik bernama Ritual Menek Sumbu. Ritual Hindu Bali, ini merupakan simbol pembersihan diri yang khusus diperuntukkan bagi anak gadis pertama yang telah mencapai akil balig.
Makna Simbolis dan Kepercayaan Masyarakat
Menurut Kelian Desa Adat Timbrah, I Wayan Gunaksa, ritual ini melambangkan kesucian dan kesiapan seorang gadis untuk memasuki fase baru dalam kehidupannya.
Anak gadis yang menjalani ritual ini diyakini membawa keberkahan, disimbolkan sebagai Dewi Laksmi.
Hal ini dikarenakan kepercayaan masyarakat sekitar bahwa anak gadis yang melakukan ritual tersebut masih suci, bersih, tidak terpengaruh oleh duniawi.
Bahkan diyakini membawa keberkahan yang disimbolkan sebagai Dewi Laksmi.
Ritual Menek Sumbu digelar sebagai penyambutan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan sarana upacara tiang lurus yang dihiasi berbagai perlengkapan yang kemudian disebut sumbu yang bentuknya mengerucut.
“Sumbu ini merupakan sebuah poros (pusat), atau poros sumber kehidupan untuk mencapai sunia (kedekatan dengan Tuhan),” ungkapnya.
Upacara Penuh Warna dan Persiapan Matang
Ritual Menek Sumbu diawali dengan penyiapan tiang lurus yang dihiasi dengan berbagai perlengkapan, disebut sumbu.
Hiasan sumbu tersebut memiliki makna simbolis yang mendalam, seperti rerenteng, bungan lengkuas, reringgitan naga sari, dan wayang.
Sebelum ritual, dilakukan sangkep atau paruman desa untuk menentukan giliran dan lokasi pelaksanaan ritual.
Gadis yang menjalani ritual dipingit selama satu minggu untuk mempersiapkan diri secara spiritual dan fisik.
Proses Ritual yang Penuh Kebaikan dan Gotong Royong
Pada malam hari sebelum ritual, janur direbus dan diwarnai dengan lima warna.
Keesokan harinya, para muda-mudi desa berkumpul untuk membantu prosesi ritual, termasuk membersihkan janur dan membawanya ke Pancoran Dedari untuk dibersihkan.
Sebagai bentuk rasa terima kasih, keluarga yang melaksanakan ritual menyediakan makanan untuk para warga yang telah membantu.
Tradisi megibung, makan bersama di atas nampan daun pisang, menjadi momen kebersamaan dan kegotongroyongan masyarakat Desa Timbrah.
Ritual Menek Sumbu: Tradisi yang Memperkuat Identitas dan Nilai Budaya
Lebih dari sekadar ritual pembersihan diri, Ritual Menek Sumbu menjadi cerminan nilai-nilai budaya dan tradisi yang dipegang teguh oleh masyarakat Desa Timbrah.
"Ritual ini memperkuat identitas desa dan menjalin rasa kebersamaan antar warga," jelas I Wayan Gunaksa.
Pesan Moral dan Kearifan Lokal
Ritual Menek Sumbu bukan hanya tentang tradisi, tetapi juga tentang pesan moral dan kearifan lokal.
Ritual ini mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga kesucian diri, mempersiapkan diri dengan baik untuk masa depan, dan selalu bersyukur atas bantuan orang lain.
Ritual Menek Sumbu merupakan tradisi unik dan bermakna di Desa Timbrah. Ritual ini bukan hanya tentang pembersihan diri, tetapi juga tentang nilai-nilai budaya, kearifan lokal, dan rasa kebersamaan antar warga. ***