Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tajen di Bali: Sejarah dan Makna Ritual Hindu Pertarungan Ayam dalam Upacara Yadnya

I Putu Suyatra • Minggu, 14 April 2024 | 19:10 WIB
Perang Ayam
Perang Ayam

BALI EXPRESS - Tajen, atau perang ayam, di Bali telah lama menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat dan tradisi upacara agama Hindu di pulau itu. Namun, apa sebenarnya makna dan asal-usul dari ritual yang kadang disebut Tabuh Rah ini?

Menurut sejarah, Tabuh Rah memiliki akar yang dalam dalam budaya Bali, dimulai dari pelarian orang-orang Majapahit sekitar tahun 1200 Masehi.

Tradisi ini tidak hanya sekadar pertarungan ayam, melainkan bagian dari serangkaian aktivitas ritual yang dijalankan sebagai penghormatan kepada penguasa jagad, Bhuta Kala.

Jro Mangku I Wayan Satra, seorang ahli keagamaan di Bali, menjelaskan bahwa dasar dari Tabuh Rah adalah pedoman yang bersumber dari sastra agama, seperti yang terdapat dalam Lontar Ciwa Tatwa Purana dan Yadnya Prakerti.

Dalam teks-teks tersebut dijelaskan tentang pentingnya melaksanakan persembahan kepada Dewa dalam bentuk pertarungan ayam saat bulan Kasanga.

Ritual Tabuh Rah biasanya dilakukan dalam bentuk pertarungan ayam, di mana salah satu ayam akan meneteskan darahnya ke tanah sebagai persembahan kepada Bhuta Kala.

Meskipun Himsa (membunuh) dianggap sebagai dosa besar dalam ajaran agama Hindu, namun dalam konteks Tabuh Rah, tindakan tersebut dianggap sebagai bagian dari Dharma, yaitu untuk kepentingan agama.

Selain itu, ritual Tabuh Rah juga dilengkapi dengan upacara dan sesajen tertentu, yang bertujuan untuk memohon kepada Hyang Widhi Wasa agar roh binatang yang menjadi persembahan mendapatkan tempat yang baik dalam reinkarnasinya selanjutnya.

Satra menegaskan bahwa meskipun Tabuh Rah melibatkan korban darah, itu tidak ditujukan kepada dewa atau leluhur, melainkan kepada Bhuta Bhucari, Kala Bhucari, dan Durga Bhucari.

"Perang ayam dalam konteks Tabuh Rah juga memiliki makna magis, di mana bilangan tiga diyakini sebagai lambang permulaan, tengah, dan akhir," ungkapnya.

Namun, penting untuk memahami perbedaan antara perang ayam sebagai Tabuh Rah dan sabung ayam sebagai judi.

Tabuh Rah hanya dilakukan dalam tiga babak, dilengkapi dengan adu-aduan tertentu, dan tidak melibatkan taruhan dengan motif untuk menang.

"Ini merupakan bagian dari upacara agama (yadnya) yang dijalankan dengan niat murni untuk penghormatan kepada dewa," jelasnya.

Dengan demikian, Tajen tidak hanya sekadar pertarungan ayam biasa, melainkan sebuah tradisi yang sarat dengan makna spiritual dan penghormatan kepada kekuatan alam.

Semoga pemahaman ini dapat membantu memperdalam apresiasi terhadap warisan budaya dan agama yang kaya di Bali. ***

 
 
Editor : I Putu Suyatra
#Tabuh Rah #bali #tajen #yadnya #hindu #bhuta kala