Misteri Ritual Hindu Ngaben di Bali: Apa Rahasia dan Makna di Balik Wadah, Bade, dan Lembu?
I Putu Suyatra• Senin, 15 April 2024 | 03:28 WIB
PELEBON : Pelebon I Gusti Ngurah Alit Yudha, anak ketiga pahlawan nasional I Gusti Ngurah Rai, Jumat (10/2). (AGUNg BAYU/BALI EXPRESS)
BALI EXPRESS - Upacara Ngaben di Bali merupakan ritual Hindu untuk mengantar arwah leluhur atau orang terkasih menuju alam sunia. Dalam prosesinya, selain menggunakan wadah, bade, juga disertai lembu. Tapi, apa makna di balik ketiga sarana ini?
Dalam sebuah wawancara eksklusif Bali Express dengan Dr. Komang Indra Wirawan, Ketua Yayasan Gases Bali, mengungkapkan bahwa Wadah, Bade, dan Lembu bukan sekadar alat, tetapi memiliki makna filosofis yang dalam.
Menurutnya, Wadah dan Bade adalah simbol dari bagian bawah Gunung Maliawan, mencerminkan hierarki sosial dalam masyarakat Bali.
Namun, belakangan ini, fenomena pangabenan secara mewah dan berlebihan mulai mengemuka, memicu pertanyaan akan makna sesungguhnya dari ritual tersebut.
Dr. Komang menyatakan bahwa kemegahan alat-alat pangabenan tidak menentukan nasib arwah menuju Nirwana.
"Atman dimudahkan menuju Suargan atau Nirwana, bukan karena Wadah yang digunakan, tapi tergantung karma sang atman itu," tegasnya.
Lebih lanjut, dia menjelaskan perbedaan fisik dan simbolis dari Wadah dan Bade. Bade, yang biasanya digunakan oleh mereka yang memiliki kasta lebih tinggi, memiliki ornamen simbolis yang menggambarkan perjalanan atman ke alam sunia.
Di sisi lain, Wadah lebih sederhana dan digunakan oleh seseorang yang tidak berkasta.
Namun, apa yang membuat pembaca semakin penasaran adalah simbolisme dari setiap ornamen pada Bade.
Ornamen seperti Bedawang Nala, Naga, Boma, Garuda, dan Angsa memiliki makna mendalam dalam filosofi Hindu Bali, mencerminkan perjalanan spiritual arwah setelah kematian.
Dengan demikian, di balik kemegahan visual ritual Ngaben, terdapat warisan budaya dan filosofi yang patut dijelajahi.
Namun, sebuah pertanyaan tetap mengemuka: apakah ritual mewah ini sejalan dengan makna sejati dari Ngaben, ataukah hanya sekadar pengejaran kesempurnaan fisik yang tidak relevan dengan perjalanan spiritual atman?
Dengan semakin berkembangnya kesadaran akan makna sejati dari Ngaben, mungkin saatnya bagi masyarakat Bali untuk kembali merenungkan esensi dari ritual yang telah menjadi bagian integral dari warisan budaya mereka.
Wadah, Bade, dan Lembu:
Fungsi: Ketiganya memiliki fungsi sama sebagai sarana Ngaben.
Perbedaan:
Wadah: Biasanya digunakan untuk mereka yang tidak berkasta. Bentuknya sederhana, seperti keranda tanpa penutup.
Bade: Digunakan untuk mereka yang berkasta lebih tinggi. Bentuknya lebih kompleks dan bertingkat.
Lembu: Simbol kendaraan para dewa yang dipercaya membawa atman menuju alam sunia.
Filosofi:
Bade dan Wadah: Merupakan simbolisasi bagian bawah Gunung Maliawan, tempat bersemayam para dewa.
Tingkat Bade: Menandakan kasta orang yang melaksanakan Ngaben. Semakin tinggi tingkatannya, semakin tinggi kastanya.
Ornamen pada Bade: Memiliki makna simbolis, seperti:
Bedawang Nala: Simbol rwa bhineda (kemampuan memilah baik dan buruk).
Naga: Simbol 'Kamerta pangurip jagat' (keseimbangan alam) dan nafsu manusia.
Boma: Simbol sifat rakus dan tidak pernah puas.
Garuda: Simbol kendaraan Dewa Wisnu yang membantu mengantarkan atman.
Angsa: Simbol kembalinya atman kepada Sang Pencipta.
Penekanan:
Bukan Sarana Penentu Ke Surga: Penggunaan Bade, Lembu, atau Wadah yang mewah tidak menjamin atman mudah menuju surga. Yang menentukan adalah karma semasa hidup.
Memberi Bekal Orang Meninggal: Memberi bekal berupa uang dan benda berharga kepada jenazah yang akan dibakar adalah tindakan yang salah kaprah. Orang yang meninggal tidak membawa benda-benda itu ke alam Nirwana.
Lebih Baik Berbuat Baik Saat Hidup: Memberikan bantuan kepada orang tua saat masih hidup jauh lebih bermanfaat daripada memberi bekal berlebihan saat mereka sudah tiada.
Kesimpulan:
Bade, Lembu, dan Wadah adalah sarana penting dalam Ngaben, namun makna yang terkandung di dalamnya lebih dalam dari sekadar benda fisik.
Upacara Ngaben bukan tentang kemewahan, melainkan tentang mengantarkan atman dengan tulus dan penuh makna, sesuai dengan karma mereka semasa hidup. ***