Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Prof Bandem Mengisahkan Perjalanan Hidup I Mario, Maestro Tari Bali

Rika Riyanti • Selasa, 16 April 2024 | 13:00 WIB
Prof Bandem.
Prof Bandem.

DENPASAR, BALI EXPRESS - Budayawan Bali Prof I Made Bandem merenungkan kehidupan dan kontribusi besar seorang seniman Bali legendaris bernama I Ketut Marya atau I Mario.

Prof Bandem membagikan cerita-cerita yang tak terlupakan tentang perjalanan hidup I Mario. 

Menurut Prof Bandem, I Mario memiliki kelahiran yang misterius. Namun dirinya membeberkan bahwa I Mario sebetulnya lahir di Banjarangkan, Kabupaten Klungkung.

Mario dikenal sebagai anak kelima dari lima bersaudara dalam keluarga yang berjuang keras secara ekonomi.

Namun, meskipun dari keluarga yang sederhana, Mario memiliki bakat alami dalam seni tari. 

Mario tidak hanya dikenal melalui cerita-cerita di buku, tetapi juga di film seperti garapan Margaret Mead dan Katharine Mershon berjudul Learning to Dance in Bali yang mereka buat ketika keduanya berada di Bali.

Mario sendiri, bahkan diminta turun tangan langsung menggarap bagian gamelannya.

“Selain itu, Amil Samsudin menulis live story I Mario ketika membawa Gong Pangkung ke Amerika. Saat itu, dua kali Pak Mario ke luar negeri di tahun 1957 dan 1962,” jelas Prof Bandem.

Prof Bandem menggambarkan bagaimana Mario dibimbing dan mendapat dukungan dari seorang saudagar China bernama Khansam.

Sewaktu itu, kata Prof Bandem, gumi sedang paceklik, susah hidup.

Mario pindah ke Desa Belaluan, Denpasar, dan bertemu saudagar China tersebut yang memboyongnya ke Tabanan untuk berdagang di sana.

Melihat bakat cemerlang yang dimiliki I Mario, saudagar itu mengajaknya menghadap ke Puri Kaleran, Tabanan dan bertemu dengan Raja Tabanan Puri Kaleran, Anak Agung Ngurah Made.

“Pak Mario lahir dari keluarga miskin, punya bakat menari gerak, dididik, lahir hebat, walaupun keluaga miskin, ia mempunyai tinggi 170 cm. Pas menari, manis senyumnya, dia tinggi semampai, digerakkan, menyebabkan sukses,” ucap Prof Bandem.

Kendati demikian, perjalanan hidupnya tidak selalu mulus. Pada usia 25 tahun, di usia yang terbilang muda untuk saat ini, I Mario mengidap kencing batu

Berkat saran dari teman baiknya dan bantuan dari Dokter Sutomo atau yang dikenal saat ini sebagai ‘Bung Tomo’, ia sembuh dan melanjutkan perjalanan artistiknya dengan semangat baru.

Bahkan, ketika berada di Surabaya untuk perawatan, ia memiliki kesempatan untuk bertemu dengan tokoh sejarah besar, seperti Bung Karno.  

“Di situ I Mario bertemu Bung Karno, diceritakan, saat rapat dengan Bung Tomo. Mario ditanya Bung Karno, ‘kamu pasti orang Bali, karena pakai kancut, pakai udeng. Tidak bisa bahasa Indonesia dengan baik’. Bung Karno cerita ke Pak Mario, ‘saya juga orang Bali. Bapak Jawa, ibu orang Bali’ ternyata Bung Karno adalah presiden,” terangnya.

Pendidikan formal mungkin tidak menjadi fokus utama bagi Mario, tetapi dia memiliki pemahaman yang mendalam tentang bahasa dan budaya Bali.

Prof Bandem berbagi pengalamannya belajar langsung dari I Mario, yang tidak hanya mengajarkan teknik tari, tetapi juga membagikan wawasan tentang kehidupan dan seni. 

Salah satu momen puncak dalam karir seni Mario adalah saat dia menciptakan Tari Oleg Tambulilingan, sebuah karya yang diilhami dari buku balet Sleeping Beauty.

Dengan bantuan rekan-rekannya di Peliatan, Mario berhasil menciptakan sebuah karya yang memadukan keindahan gerakan tari Bali dengan nuansa romantis balet. 

“Terciptanya Oleg Tambulilingan, ingin ada satu duet, supaya ada tarian duet. Pusing Pak Mario, ‘apa duet?’. Si John, tunjukkan buku balet yang judulnya Sleeping Beauty. Ada 2 tokoh Princess Aurora dan Pangeran Charles. Mulailah latihan di Peliatan, menggunakan dasar Legong Kraton untuk tari ini,” katanya.

“Pak Mario memberikan lagu ke I Sapih, tukang gambelnya. Saat itu ada tambulilingan lewat, ini yang dipakai judulnya ‘tambulilingan mangisep sari’ dibuat. Diperpendek jadi Tambulilingan saja jadinya. Tiga orang di Peliatan berperan mendukung, Anak Agung Gede Mantra, I Gusti Kompyang Pangkung, I Made Gebeh, berperan memainkan gambelan,” tambahnya.

Meskipun meninggalkan Bali untuk sementara waktu untuk pertunjukan di Amerika dan Eropa, Mario selalu kembali ke akar budayanya.

Terakhir kali Prof Bandem melihatnya menari di Desa Lukluk pada tahun 1967, dan bahkan pada saat itu, kenang Prof Bandem, kepiawaiannya dalam menari masih luar biasa. 

Dalam tuturnya ini, Prof Bandem tidak hanya mengenang seorang seniman yang hebat, tetapi juga seorang teman dan mentor yang meninggalkan warisan budaya yang tak terlupakan bagi Bali dan dunia seni secara keseluruhan.

I Mario, dengan semua keunikannya, adalah simbol keberanian, ketekunan, dan keindahan dalam seni tari Bali. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#bali #Prof Bandem #Mario