BALI EXPRESS - Pulau Bali telah lama mengandalkan sektor pariwisata sebagai tulang punggung ekonominya.
Namun, sedikit yang menyadari bahwa makna dan konsep wisata telah tertuang dalam sastra Hindu sejak zaman dahulu.
Sastra Hindu, seperti Kakawin Ramayana, Kakawin Hariwangsa, Kakawin Sumanasantaka, Kakawin Bharata Yuddha, Udyoga Parwa, dan Wrehaspati Tattwa, memuat beragam kisah yang memperkaya pemahaman tentang wisata.
Putu Eka Guna Yasa, seorang dosen di Program Studi Sastra Bali, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana, menjelaskan bahwa pentingnya memahami makna wisata melalui kajian sastra masih jarang dilakukan.
Di sisi lain, pertumbuhan industri pariwisata Bali terus melaju tanpa henti, tak jarang di luar kendali.
Ketergantungan pada industri pariwisata terbukti dari sejumlah peristiwa yang telah menguji Bali, seperti Bom Bali, erupsi Gunung Agung, dan pandemi Covid-19.
Bali telah lama terjebak dalam ketergantungan ini, sehingga terancam secara ekonomi saat pariwisata mengalami gangguan.
Guna menegaskan bahwa saat ini adalah momen yang tepat untuk merenungkan kembali makna wisata dalam konteks Bali.
Diskusi internal tentang makna tersebut diperlukan, terutama ketika aktivitas pariwisata mengalami penurunan.
Menurutnya, merenung dan menepi adalah langkah penting di era yang penuh dengan hiruk-pikuk kehidupan modern.
Di dalam khazanah literasi Bali, wacana tentang wisata telah dijelajahi dalam berbagai karya sastra.
Karya-karya seperti Kakawin Ramayana, Kakawin Hariwangsa, Kakawin Sumanasantaka, Kakawin Bharata Yuddha, Udyoga Parwa, dan Wrehaspati Tattwa mengandung konsep-konsep penting tentang wisata.
Misalnya, karya sastra Tantri Kamandaka menggambarkan konsep wisata sebagai perjalanan untuk membebaskan diri dari masalah kehidupan.
Begitu pula dalam Kakawin Sumanasantaka, di mana tokoh Priambada melakukan tamasya di berbagai tempat alam untuk mencari kedamaian di tengah kesulitan hidup.
Namun, makna sejati tentang wisata dapat ditemukan dalam Kakawin Ramayana.
Ketika Rama dan Laksamana mengunjungi pertapaan Resi Wiswamitra, suasana tenang dan damai yang mereka rasakan menggambarkan makna sejati dari kata 'wisata'.
Begitu pula ketika Rama memberikan nasihat kepada Wibhisana, di mana kata 'wisata' mengandung makna ketenangan pikiran dari segala kegelisahan.
Makna wisata dalam konteks sastra Hindu tidak sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual dan pencarian kedamaian batin.
Mempelajari konsep wisata dalam sastra Hindu dapat memberikan wawasan yang lebih dalam tentang makna sejati dari perjalanan dan kehidupan. (*)