BALI EXPRESS – Sebuah pohon pisang membuat gempar warga di Banjar Lepang, Desa Takmung, Banjarangkan, Klungkung Bali.
Pasalnya, pohon pisang milik Wayan Kanta berbeda dari yang lainnya.
Tumbuh di sawah milik Wayan Kanta, pohon pisang tersebut memiliki tandan bercabang tiga dan tiga jantung atau pusuh.
Keanehan ini bikin warga Takmung Klungkung heboh dan berbondong-bondong mendatangi pohon pisang milik Kanta.
Ada pula yang mengabadikannya dengan foto dan video untuk diunggah di sosial media.
Di balik kehebohan pohon pisang tersebut, ternyata jantung pisang atau pusuh biu memiliki peran penting dalam upacara Hindu di Bali.
Hal ini didasari atas kepercayaan bahwa jantung pisang memiliki filosofi dan makna tertentu.
Jantung pisang biasanya digunakan saat upacara mecolongan atau bulan pitung dina.
Macolongan merupakan ucapan terimakasih kepada Nyama Bajang yang telah menjaga dan melindungi si bayi sejak di dalam kandungan.
Nyama Bajang adalah sebuah kekuatan yang membantu Catur Sanak saat bayi berada dalam kandungan.
Catur Sanak adalah empat unsur yang menunjang pertumbuhan bayi, yakni darah, yeh nyom, lamad, dan ari-ari.
Upacara Macolongan dilaksanakan setelah bayi berumur 42 hari (satu bulan tujuh hari sejak kelahirannya).
Tujuannnya untuk mengembalikan 'Nyama Bajang' itu ke tempat asalnya, karena dianggap tidak mempunyai tugas lagi, bahkan kadang-kadang malah sering mengganggu si bayi.
Salah satu sarana yang digunakan adalah pusuh biu atau jantung pisang.
Jantung pisang ini diisi 3 buah pis bolong (uang kepeng) yang disebut bajang pusuh.
Sarana lainnya adalah dua anak ayam, jantan dan betina, disebut dengan Bajang Colong.
Tujuan upacara ini adalah untuk mengucapkan terima kasih kepada bajang-bajang tersebut, karena telah membantu merawat si bayi selama di dalam kandungan, sampai kemudian lahir dan berumur 42 hari.
Karena tugasnya telah selesai, maka dipersilakan kembali ke asal masing-masing dengan upacara macolongan.
Masih terkait dengan upacara untuk bayi, jantung pisang juga digunakan saat upacara nelu bulanin atau bayi berumur tiga bulan.
Jantung pisang ini merupakan simbol getih atau darah yang menyertai bayi saat lahir.
Tidak hanya untuk upacara manusa yadnya, mecolongan dan nelu bulanin, jantung pisang juga digunakan dalam upacara dewa.
Salah satunya digunakan saat pementasan Tari Baris Babuang, Desa Adat Batu Lantang, Desa Sulangai, Kecamatan Petang, Badung, Bali.
Bendesa Adat Batu Lantang I Rai Ardana mengatakan, Tari Baris Babuang ditarikan secara berkelompok oleh 8 penari laki-laki yang masih perjaka.
Tarian ini menggunakan pakaian berwarna poleng (hitam dan putih) dengan tepi berwarna merah.
Selain itu juga memakai celana panjang berwarna merah dan memakai pusuh biu atau jantung pisang yang digigit di mulutnya.
“Penari menggunakan jantung pisang, sebagai simbol taring dan lidah seekor babuang, yaitu sejenis semut hitam,” ungkapnya.
Tarian ini dipentaskan sebagai ucapan rasa syukur ke hadapan Ida Hyang Widhi Wasa atas karunia melimpahkan hasil panen masyarakat desa dalam bercocok tanam
Tari Baris Babuang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Hukum dan HAM pada 2021.(*)
Editor : Nyoman Suarna