BALI EXPRESS - Di Desa Manikliyu, Kabupaten Bangli, Bali, tradisi leluhur masih dilestarikan dengan penuh rasa hormat dan bakti.
Salah satu tradisi yang unik dan langka adalah Ritual Metani, sebuah tarian sakral yang hanya diadakan pada momen istimewa Galungan Nadi dan Galungan Mabunga.
Bendesa Manikliyu I Nyoman Jaga menjelaskan, Galungan Nadi dan Galungan Mabunga bertepatan dengan purnama.
Galungan Nadi adalah hari raya umat Hindu yang jatuh pada Buda Kliwon, Wuku Dungulan bertepatan dengan bulan purnama.
Menurutnya, pertemuan Galungan dengan bulan punama hanya terjadi sewaktu-waktu.
Maka dari itu, ritual Matani tersebut termasuk ritual yang jarang dilaksanakan.
Momen ini merupakan momen yang penuh makna spiritual bagi masyarakat Desa Manikliyu.
Ritual Metani bukan sekadar pertunjukan tari biasa. Tarian ini merupakan wadah bagi para penari untuk mempersembahkan rasa tulus ikhlas dan bakti mereka kepada Sang Pencipta.
Penari Metani harus memiliki hati yang bersih dan penuh ketulusan, karena diyakini bahwa hanya dengan hati yang suci mereka dapat menarikan tarian sakral ini dengan penuh penghayatan.
Ritual Metani dimulai pada malam hari dan berlangsung hingga menjelang pagi hari.
Alunan musik tradisional gambang mengiringi setiap gerakan para penari, menciptakan suasana magis dan penuh khidmat.
Para penari menari dengan penuh konsentrasi, gerakan mereka melambangkan rasa syukur dan penghormatan kepada Sang Pencipta.
Ritual Metani bukan hanya tentang tarian, tetapi juga tentang kebersamaan dan gotong royong.
Seluruh masyarakat Desa Manikliyu bahu membahu untuk mempersiapkan ritual ini, mulai dari menyiapkan sarana upacara hingga menjaga kelancaran jalannya ritual.
Semangat kebersamaan ini menjadi salah satu kekuatan yang menjaga kelestarian tradisi leluhur di Desa Manikliyu.
Ritual Metani adalah tradisi yang penuh makna dan nilai spiritual.
Tradisi ini menjadi pengingat bagi masyarakat Desa Manikliyu untuk selalu menjaga hubungan baik dengan Sang Pencipta dan sesama manusia.
Tradisi ini juga menjadi bukti kekayaan budaya Bali yang patut dilestarikan dan diwariskan kepada generasi penerus. (*)
Editor : Nyoman Suarna