Pura Gede Batur: Simpan Misteri, Tempat Nunas Tamba dan Sejarah Penting untuk Para Pejuang Kemerdekaan di Bali
I Putu Suyatra• Rabu, 24 April 2024 | 17:58 WIB
Pura Gede Batur di Desa Pererenan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali.
BALI EXPRESS - Pura Gede Batur, yang terletak di tepi Sungai Pangi, menjadi salah satu destinasi spiritual dan sejarah yang menarik di Bali. Selain menjadi tempat ibadah bagi umat Hindu, pura ini juga memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Bagi yang ingin mengunjungi pura ini untuk bersembahyang, sebaiknya meminta petunjuk kepada masyarakat setempat karena lokasinya agak jauh dari jalan raya utama.
Untuk mencapainya, pengunjung harus melewati jalan kecil berpaving.
Jro Mangku Pura Gede Batur, Wayan Nitra, menjelaskan kepada Bali Express (Jawa Pos Group) bahwa awalnya pura ini adalah tempat ibadah yang dibangun oleh dua banjar, yaitu Banjar Pengembungan dan Delod Padonan, Desa Pererenan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung.
Namun, seiring berjalannya waktu, warga dari luar desa juga bergabung dalam pamaksan pura ini.
"Saat ini, sekitar 115 kepala keluarga tergabung dalam pamaksan pura," ungkapnya pada Selasa (12/9/2017) lalu.
Menurut Jro Mangku Wayan Nitra, Pura Gede Batur didedikasikan untuk memuja Dewa Siwa dengan nama Ratu Gede Putus.
Menurut cerita turun-temurun, leluhur Jro Mangku Wayan Nitra melihat sinar misterius di tempat tersebut zaman dahulu ketika wilayah tersebut masih berupa hutan belantara.
Sinar tersebut diyakini berasal dari Gunung Batur dan diiringi dengan suara gaib yang menyatakan kedatangan Dewa Siwa beserta prasanaknya.
"Di pura ini, tumbuh satu pohon celagi yang sangat besar. Kemudian, pura ini dibangun sebagai tempat tinggal Dewa Siwa beserta prasanaknya. Oleh karena itu, ada beberapa palinggih di pura ini selain pusat ibadah utamanya," jelasnya.
Pura Gede Batur memiliki beberapa palinggih penting, di antaranya adalah palinggih Ratu Gede Putus sebagai palinggih utama, palinggih Ratu Biyang Putus, Ratu Dewi Sri atau Pangulun Carik, Ratu Manik Galih, Ratu Nyoman Sakti, dan palinggih berupa rangda serta barong.
Selain itu, ada juga lima prasanak Dewa Siwa, yaitu Ratu Made, Ratu Ketut, Ratu Gobleh, Ratu Mekel, dan Ratu Gede Blembong. Tidak ketinggalan, terdapat sebuah beji atau permandian suci yang terletak di sebelah selatan pura.
"Upacara pujawali dilaksanakan setelah Galungan, tepatnya pada hari Buddha Cemeng Merakih," tambahnya.
Pura Gede Batur tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga dulu digunakan sebagai tempat orang berobat, baik secara medis maupun non-medis.
Banyak yang berhasil sembuh setelah mendapatkan pengobatan dari kakek Jro Mangku Wayan Nitra.
Namun, setelah sang kakek tiada, praktik pengobatan tersebut tidak dilanjutkan oleh penerusnya.
Selain sebagai tempat ibadah dan pengobatan, Pura Gede Batur juga menjadi tempat untuk memohon berbagai hal.
Mulai dari kesuksesan dalam pertanian, kesembuhan, hingga kesaktian.
Banyak yang memperoleh paica (anugerah), baik berupa kesuksesan maupun benda-benda keramat.
Misalnya, ada yang mendapat paica berupa cengceng, salah satu alat gamelan Bali, yang diyakini sangat bertuah.
Sementara itu, sang ayah Jro Mangku juga pernah mendapat uang keramat seperti Pis Sangut, Pis Hanoman, dan sabuk poleng (loreng).
"Namun, saya tidak diizinkan oleh ayah untuk menggunakannya. Paica tersebut kemudian dikembalikan ke pura. Uniknya, saat diletakkan di dulang bersama banten pejati, sabuk tersebut menghilang secara misterius," ujarnya.
Di palinggih Ratu Gede Blembong, yang dikelilingi oleh kolam kecil, umat biasanya memohon tirtha jika membutuhkan hujan atau ingin menolak hujan.
"Biasanya, saat akan ada upacara, warga memohon tirtha ke sini," tambahnya.
Selain sebagai tempat ibadah dan pengobatan, Pura Gede Batur juga memiliki sejarah yang berhubungan dengan masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Kawasan pura ini pernah digunakan sebagai tempat persembunyian bagi para pejuang sebelum masa perang kemerdekaan.
"Beberapa orang yang berjuang, seperti dari Batuan, Gianyar, dan lain-lain, sempat bersembunyi di sini. Salah satunya adalah Pan Gejor. Beberapa waktu lalu, keturunannya datang ke sini untuk bersembahyang dan mengucapkan terima kasih karena kakeknya selamat," ceritanya.
Terlihat di salah satu tembok pura, terdapat ukiran-ukiran unik. Salah satunya mirip sosok petinggi militer Belanda.
"Ukirannya berasal dari tahun 1947 dan dikatakan bahwa pengukirnya bernama Pan Kerib dari Buduk. Uniknya, ada ukiran yang menyerupai penjajah. Mungkin itu adalah representasi dari kondisi pada masa itu," jelasnya.
Meskipun telah mengalami renovasi, Jro Mangku menginginkan agar karakter asli pura tetap terjaga.
"Beberapa palinggih sudah diganti dengan batu hitam, padahal aslinya terbuat dari bata merah dan batu padas yang direkatkan dengan tanah liat. Saya berharap pura utama ini tidak mengalami perubahan bahan bangunan yang signifikan," ujarnya. ***