Pura Manik Tirta: Empat Pura dalam Satu Kawasan, Keunikan Arsitektur dan Peran Penting dalam Regenerasi Budaya Hindu Bali
I Putu Suyatra• Rabu, 24 April 2024 | 20:25 WIB
Pura Manik Tirta di Bangli, Bali
BALI EXPRESS - Pura Manik Tirta, yang terletak di Banjar Gunaksa, Desa Cempaga, Bangli, Bali, menampilkan keunikan dalam tata letak bangunannya. Bahkan, beberapa ahli Hindu Bali mengklasifikasikannya sebagai Pura Kahyangan Tiga.
"Dengan melihat ciri-ciri yang ada, Pura Manik Tirta bisa digolongkan sebagai Pura Kahyangan Tiga," kata Tokoh Adat Banjar Gunaksa, I Gusti Agung Jelantik.
Ini karena dalam struktur Desa Adat, setiap desa harus memiliki Kahyangan Tiga, termasuk Pura Desa, Pura Puseh, Bale Agung, dan Pura Dalem.
Kehadiran Bale Agung inilah yang membuat banyak orang menganggap pura ini sebagai Pura Kahyangan Tiga.
"Namun, sampai saat ini, Pura Manik Tirta tetap menjadi Parahyangan Banjar Gunaksa dan bukan bagian dari Pura Kahyangan Tiga," katanya.
"Di kompleks Pura Manik Tirta, terdapat empat pura yang berada dalam satu kompleks. Pura-pura tersebut adalah Pura Bale Agung, Pura Ibu, Pura Masceti, dan Pura Manik Tirta sendiri," tambah Agung Jelantik.
Agung Jelantik juga menekankan bahwa banyak kegiatan yang berhubungan dengan regenerasi dilaksanakan di Pura Manik Tirta.
Misalnya, menjelang piodalan, pemuda dan pemudi terlibat dalam kegiatan yang hampir sama dengan warga banjar lainnya.
Selain itu, saat Piodalan Saraswati di Pura Manik Tirta, digelar persembahyangan Saraswati dan upacara ini juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan adat istiadat serta budaya yang ada di Banjar Gunaksa kepada generasi muda.
Tujuannya adalah agar generasi muda memahami adat istiadat dan budaya Banjar Gunaksa sejak dini.
"Upaya ini kami lakukan agar generasi muda tidak kaget saat menghadapi adat istiadat di Banjar Gunaksa ketika mereka berkuliah atau bekerja di luar daerah. Kami ingin mereka terbiasa dengan adat yang tegas namun lembut," tutur Agung Jelantik.
Keunikan Tata Letak Pura Manik Tirta:
Dikenal sebagai Pura Kahyangan Tiga: Meskipun bukan secara resmi, Pura Manik Tirta memiliki ciri-ciri yang menyerupai Pura Kahyangan Tiga, yaitu memiliki bangunan Bale Agung yang biasanya terdapat di Pura Kahyangan Tiga.
Empat Pura dalam Satu: Keunikan lain dari Pura Manik Tirta adalah terdapat empat pura yang berada dalam satu kompleks, yaitu Pura Bale Agung, Pura Ibu, Pura Masceti, dan Pura Manik Tirta itu sendiri.
Simbol Pelestarian Budaya: Keberadaan Pura Manik Tirta menjadi simbol pelestarian budaya dan tradisi masyarakat Banjar Gunaksa, diwariskan dari generasi ke generasi.
Peran Penting dalam Regenerasi Budaya:
Pelibatan Pemuda dalam Upacara: Pura Manik Tirta menjadi tempat penting dalam melestarikan budaya dan tradisi Banjar Gunaksa. Pemuda-pemudi dilibatkan dalam berbagai kegiatan menjelang piodalan, menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kepemilikan mereka terhadap budaya.
Persembahyangan Saraswati: Pada Piodalan Saraswati, pura ini menjadi tempat memperkenalkan adat istiadat dan budaya Banjar Gunaksa kepada generasi muda. Hal ini bertujuan agar mereka memahami dan melestarikan budaya mereka sejak dini.
Penanaman Nilai Budaya: Tradisi di Pura Manik Tirta menanamkan nilai-nilai penting seperti disiplin, kerjasama, dan rasa hormat terhadap leluhur. Hal ini menjadi bekal berharga bagi generasi muda dalam menghadapi masa depan.
Pura Manik Tirta: Destinasi Wisata Budaya dan Spiritual:
Keunikan arsitektur dan peran pentingnya dalam regenerasi budaya menjadikan Pura Manik Tirta destinasi wisata budaya dan spiritual yang tak boleh dilewatkan.
Pengunjung dapat merasakan atmosfer spiritual yang kental, belajar tentang tradisi lokal, dan memahami pentingnya menjaga warisan budaya.
Sejarah dan Keunikan Pura Manik Tirta:
Perampian Pura Kehen: Dipercaya bahwa Pura Manik Tirta merupakan bagian dari Pura Kehen, memiliki palinggih Ida Bhatara Sakti Manik Tirta yang terletak di Utama Mandala Pura Kehen.
Upacara Berkala: Piodalan di Pura Manik Tirta dirayakan bersamaan dengan Pura Kehen, yakni pada Buda Kliwon Wuku Sinta atau Pagerwesi setiap enam bulan sekali.
Pangusaban Ida Bhatara Turun Kabeh: Setiap tiga tahun sekali, Pangusaban Ida Bhatara Turun Kabeh dilaksanakan di Pura Kehen, diikuti pula oleh Dewa yang berstana di Pura Manik Tirta.
Pura Manik Tirta dan Banjar Gunaksa:
Sejarah Banjar Gunaksa: Pada masa pemerintahan Ida Bhatara Guru Sri Adi Kuta Ketana, Banjar Gunaksa didirikan sebagai bagian dari upaya pemulihan Bangli dari wabah penyakit.
Pemujaan di Pura Manik Tirta: Warga Banjar Gunaksa membangun Pura Manik Tirta sebagai tempat pemujaan dan memohon izin kepada Raja Bangli dan Prajuru Pura Kehen untuk menstanakan Perampian Pura Kehen di sana.
Upacara di Pura Manik Tirta: Piodalan di Pura Manik Tirta dilaksanakan setiap Jumat (Sukra Kliwon Pujut), diikuti dengan mengembalikan Ida Bhatara Sakti Manik Tirta ke Khayangan Merajan Jro Mangku Manik Tirta setelah selesai.
Pura Manik Tirta: Simbol Kesetiaan dan Kearifan Lokal:
Kesetiaan Kepada Raja: Pendirian Pura Manik Tirta mencerminkan kesetiaan masyarakat Banjar Gunaksa kepada Raja Bangli dan komitmen mereka untuk memajukan wilayahnya.
Kearifan Lokal: Pura Manik Tirta menjadi simbol pelestarian budaya dan tradisi spiritual masyarakat Bangli, diwariskan dari generasi ke generasi.
Informasi Tambahan:
Lokasi: Banjar Gunaksa, Desa Cempaga, Bangli, Bali
Upacara: Piodalan setiap enam bulan sekali (Buda Kliwon Wuku Sinta atau Pagerwesi)
Kegiatan: Pangusaban Ida Bhatara Turun Kabeh setiap tiga tahun sekali
Fasilitas: Pura, taman, dan pemandangan alam yang indah