Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

UNIK! Beda dengan Rapat DPR, Tradisi Sangkepan Sekaa Deha di Penglipuran Bali Berisi Persembahan Tuak

I Putu Mardika • Kamis, 25 April 2024 | 17:48 WIB
SANGKEPAN: Bendesa Adat Penglipuran mengatakan tradisi sangkepan atau rapat Sekaa Deha di Penglipuran Bangli Bali  dilaksanakan setiap Buda Kliwon.
SANGKEPAN: Bendesa Adat Penglipuran mengatakan tradisi sangkepan atau rapat Sekaa Deha di Penglipuran Bangli Bali dilaksanakan setiap Buda Kliwon.

BALI EXPRESS - Desa Adat Penglipuran, Bangli masih mempertahankan Tradisi Sangkepan Sekaa Deha.

Sangkepan merupakan rapat atau paruman, paum yang wajib dilakukan atau dilaksanakan oleh Sekaa Deha setiap satu bulan sekali, bertepatan dengan hari Buda Kliwon.

Sangkepan tersebut dilaksanakan di bale dedeha di Pura Penataran dengan tandingan malang jaje kukus unti.

Sebelum sangkepan dimulai, terlebih dahulu dedeha yang mendapat giliran nakep, membawa jajan kukus, unti, daun yang berjumlah 25 lembar, porosan 25 biji dan buah pinang 25 iris.

Mereka harus datang lebih awal ke tempat pelaksanaan sangkepan.

Bendesa Adat Penglipuran, Wayan Budiartana mengungkapkan, sangkepan dilaksanakan di Pura Nataran di sebuah bale khusus yang dinamakan Bale Dedeha.

Dedeha yang mendapat bagian membawa sarana sangkepan berjumlah 4 (empat) orang. Keempat orang tersebut digilir berdasarkan hulu apad.

Sebelum sangkepan dilaksanakan, terlebih dahulu Sekaa Deha membuat tandingan malang, masing- masing 25 tanding.

Untuk membuat tandingan malang harus memperhatikan etika- etika, agar kesuciannya terjaga.

Tandingan malang ini bukan hanya untuk peserta yang ikut melaksanakan sangkepan, tetapi juga dipersembahkan di pelinggih-pelinggih.

Setelah selesai membuat tandingan malang barulah Sekaa Deha melakukan persembahyangan.

“Tandingan malang terlebih dahulu akan digunakan sebagai sesajen yang dihaturkan di palinggih- palinggih yang ada di Pura Nataran,” katanya.

Ini merupakan salah bentuk yadnya yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Pekramaan Penglipuran, sesuai dengan adat istiadat setempat, sebagai wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Setelah tetandingan dihaturkan, dilanjutkan dengan metabuh menggunakan tuak, dipersembahkan kepada bhutakala.

Setelah proses membuat tandingan malang dan persembahyangan dilakukan, barulah dilanjutkan dengan melaksanakan sangkepan Sekaa Deha yang dilaksanakan di Desa Pakramaan Penglipuran.

Seluruh Sekaa Deha mendapatkan haknya untuk mengajukan pendapat yang bertujuan untuk kelancaran setiap kegiatan.

“Intinya, pendapat yang dikemukakan wajib disampaikan dengan gaya bahasa yang sopan, tanpa melanggar batas-batas etika yang dijunjung tinggi oleh krama Desa Pakraman Penglipuran,” tutupnya. (*)

Editor : Nyoman Suarna
#bali #rapat #tuak #Penglipuran #sangkepan #tradisi #sekaa deha