Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Rahasia Pernikahan Harmonis: Naur Kelaci, Tradisi Sakral Hindu Bali di Banjar Adat Tinggan

I Putu Mardika • Rabu, 1 Mei 2024 | 14:20 WIB

Tradisi Naur Kelaci di Banjar Adat Tinggan, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Badung (ist)
Tradisi Naur Kelaci di Banjar Adat Tinggan, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Badung (ist)

BADUNG, BALI EXPRESS - Tradisi Naur Kelaci masih lestari di Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali. Tradisi ini wajib bagi pasangan suami istri (Pasutri) Hindu yang menikah di Pura Bale Agung, dipuput oleh Pemangku Pura Bale Agung.

 

Meskipun tidak ada catatan pasti tentang sejak kapan tradisi Naur Kelaci ini dimulai, namun telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di Desa Adat Tinggan.

Umat Hindu setempat percaya bahwa jika tidak melaksanakan tradisi ini dapat membawa dampak negatif.

Jro Mangku Gede I Wayan Sumadi Adnyana menjelaskan bahwa Upacara Penaur Kelaci dilaksanakan sejak adanya perkawinan, baik laki-laki yang mengambil istri dari Banjar Adat Tinggan maupun sebaliknya, serta ketika laki-laki dari Banjar Adat Tinggan mengambil istri di luar komunitas mereka.

"Ketika kedua pasangan menapaki wilayah Banjar Adat Tinggan, mereka akan mengikuti upacara Penaur Kelaci di sana. Ini dilakukan hanya sekali untuk menegaskan sahnya pernikahan secara spiritual," jelasnya.

Adapun dalam hal perkawinan di luar komunitas, pihak laki-laki atau calon pengantin harus membayar Penaur Kelaci kepada masyarakat setempat, yang biasanya berupa babi dengan lingkaran dadanya mencapai 4 cangkang jari.

"Mengatur Penaur Kelaci ini menandakan bahwa hari itu merupakan hari istimewa bagi kedua pasangan, karena mengundang seluruh warga Banjar Tinggan dan secara simbolis mengakui status mereka sebagai suami istri," tambahnya.

Pentingnya tradisi ini terlihat dari konsekuensinya; jika pengantin tidak melaksanakan upacara Penaur Kelaci di Pura Bale Agung, mereka dilarang memasuki pura selama hidup mereka karena dianggap belum suci.

Selain itu, secara spiritual, mereka khawatir hal itu dapat mengganggu keharmonisan rumah tangga.

Namun, meskipun belum melaksanakan upacara Penaur Kelaci pada saat pernikahan, pasangan tetap bisa menikah.

Upacara ini bisa dilaksanakan di kemudian hari sesuai dengan waktu yang dianggap baik menurut tradisi.

Selama prosesi Penaur Kelaci, berbagai perlengkapan seperti banten pejatian dan banten malang digunakan. Ini dianggap penting sebagai bagian dari upacara Naur Kelaci.

Proses dimulai dengan ritual matur piuning, yang dilakukan dua hari sebelum upacara, di merajan sebagai pemberitahuan simbolis tentang pelaksanaan Penaur Kelaci untuk kelancaran acara tersebut.

"Setelah persiapan selesai, upacara dilaksanakan di Pura Desa Banjar Adat Tinggan. Proses ini melibatkan penyucian diri oleh Jero Mangku dan pemberian tirta wangsuh kepada umat serta prosesi lainnya untuk menandai kesucian dan kesepakatan spiritual," papar Jro Mangku.

Tradisi Naur Kelaci menjadi bagian penting dari warisan budaya yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Banjar Adat Tinggan, menjadi bukti nyata dari kekayaan tradisional Bali yang terus dilestarikan.

Ritual Penting untuk Pernikahan Sah:

Konsekuensi Bila Tidak Melaksanakan:

Langkah-Langkah Ritual:

  1. Matur Piuning: Pemberitahuan secara niskala kepada Ida Bhatara.
  2. Puncak Acara: Upacara Penaur Kelaci di Pura Desa.
  3. Persiapan: Memilah banten dan sarana di jaba pura.
  4. Persembahyangan: Dipimpin Jero Mangku bersama masyarakat.
  5. Penyucian Diri Jero Mangku.
  6. Pemercikan Tirta Wangsuhpada: Ke palinggih, banten, dan umat.
  7. Nunas Tirtha Wangsuhpada dan Wija.

Pesan Moral:

Naur Kelaci menjadi pengingat bagi pasangan suami istri di Banjar Adat Tinggan untuk menjaga kesucian dan keharmonisan pernikahan mereka.

Baca Juga: Soal Hukum Selingkuh dalam Ajaran Agama Hindu, Begini Penjelasan Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda

Tradisi ini juga memperkuat rasa kekeluargaan dan gotong royong dalam masyarakat. *** 

Editor : I Putu Suyatra
#naur kelaci #ritual #bali #sakral #hindu #tradisi #badung