Palinggih Penunggun Karang bagi Umat Hindu Bali: Pemberi Izin atau Tidak Ilmu Hitam Masuk Pekarangan
I Putu Suyatra• Minggu, 5 Mei 2024 | 20:25 WIB
Pelinggih Penunggun Karang diyakini sebagai penjaga pekarangan rumah umat Hindu di Bali
DENPASAR, BALI EXPRESS - Di tengah gemerlapnya budaya dan spiritualitas Hindu Bali, terdapat keberadaan Palinggih Tugu Karang atau Penunggun Karang, sebuah elemen penting yang sering kali luput dari perhatian.
Lebih dari sekadar hiasan, Tugu Karang menyimpan makna filosofis dan fungsi vital sebagai pecalang niskala bagi umat Hindu di Bali.
Peran Penjaga Niskala dan Penyeimbang Kekuatan Gaib
Palinggih Tugu Karang bertugas menjaga keamanan pekarangan rumah dari serangan gaib seperti desti, teluh, terangjana, dan sejenisnya.
Kemampuannya menyeimbangkan kekuatan alam sekala dan niskala menjadikannya elemen penting dalam menjaga keharmonisan rumah tangga.
Penghalang Ilmu Hitam
Bagi para praktisi desti, Tugu Karang menjadi penghalang utama dalam melancarkan aksinya.
Izin dari Penunggun Karang, sang penjaga Tugu Karang, mutlak diperlukan sebelum mengirim teluh atau desti.
"Penunggun Karang akan membentengi seluruh penghuni rumah dengan kekuatan niskala, sehingga senjata desti menjadi tidak efektif," ujar Jro Mangku I Wayan Satra dalam wawancaranya pada Rabu (28/12/2016).
Tugu Karang tak hanya melindungi dari serangan gaib, tetapi juga memiliki kekuatan di dunia nyata.
Kemampuannya membuat orang linglung, tersesat, bahkan berubah menjadi baik, menjadi bukti kekuatannya yang luar biasa.
Penjaga Keamanan dan Pembawa Keberuntungan
Tugu Karang diyakini mampu melindungi rumah dari pencuri, membuat orang jahat tersesat, dan bahkan membantu menciptakan hujan dan terang bagi para Pawang Hujan.
Kepercayaan yang Terancam Hilang
Sayangnya, seiring modernisasi, kepercayaan terhadap Tugu Karang mulai memudar.
Banyak yang meragukan kekuatannya dan bahkan menghancurkan Palinggih Tugu Karang untuk digantikan dengan elemen lain