Makna filosofisnya adalah untuk memisahkan dua hal: yang meninggal dengan keluarga atau sentananya.
Tresna asih atau cinta kasih kepada sanak saudara memanglah wajar dan wajib. Namun, setelah seseorang meninggal, arwahnya akan menjalani proses menuju surga.
Upacara Ngaben dan penghanyutan sekah ke laut telah mengantarkan arwah ke alam baka. Di sini lah Ngarorasin berperan.
Alasan Dilakukan pada Hari Ke-12
Upacara Ngarorasin biasanya dilakukan 12 hari setelah Ngaben. Upacara ini bertujuan untuk membersihkan semua kesebelan atau cuntaka, yaitu kotoran niskala yang menempel pada tempat suci, pekarangan, dan manusia atau keluarga.
"Ngarorasin dilakukan pada hari ke-12 setelah Ngaben karena pada hari itulah sebel atau cuntaka dianggap sudah habis atau selesai," ungkap Ida Pedanda Gde Manara Putra Kekeran.
Hal ini berdasarkan Lontar Yama Purana Tattwa yang menjelaskan bahwa tubuh manusia memiliki 11 bagian yang dilanda sebel, dan masing-masing mendapat jatah cuntaka satu hari.
Tujuan Ngarorasin
Membebaskan cuntaka atau sebel semua keluarga
Menyatakan rasa terima kasih dan balas jasa kepada leluhur
Mendoakan leluhur agar bersatu dengan Sanghyang Widhi Wasa atau menitis kembali ke dunia
Upacara Makelud
Salah satu bagian penting dari Ngarorasin adalah upacara Makelud, yang bertujuan untuk membebaskan cuntaka semua keluarga.
Upacara ini merupakan simbolisasi pelepasan ikatan duniawi dan pengantaran arwah menuju surga.
Kapan Ngarorasin Dilakukan?
Ngarorasin dilakukan setelah upacara Ngaben untuk menyucikan semua yang terlibat kesebelan atau cuntaka. ***