Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Gumang, Pura Hindu di Bugbug: Cerita Bhatara Gede Gumang dan Awal Mula Tradisi Mapinton Setiap Anak yang Lahir di Sana

I Putu Mardika • Rabu, 8 Mei 2024 | 20:15 WIB

Pura Gumang atau Pura Bukit Gumang di Bugbug, Kabupaten Karangasem, Bali.
Pura Gumang atau Pura Bukit Gumang di Bugbug, Kabupaten Karangasem, Bali.

BALI EXPRESS - Terletak di Desa Bugbug, Kecamatan/Kabupaten Karangasem, Bali, Pura Gumang atau Pura Bukit Gumang bukan sekadar tempat suci biasa. Keberadaannya terikat erat dengan cerita rakyat dan tradisi masyarakat setempat.

Memasuki pura ini membutuhkan perjuangan ekstra. Para pemedek harus mendaki ratusan anak tangga dan melewati gerbang raksasa, seolah mengantarkan mereka menuju alam nirwana.

Perjuangan ini mencerminkan dedikasi dan tekad kuat mereka dalam mencapai pencerahan spiritual.

Baca Juga: Pura Gumang, Tempat Suci Umat Hindu Bali: Erat Kaitannya dengan Pendirian Desa Bugbug, Destinasi Wisata Spiritual yang Memikat

Wayan Sudiarta, seorang pemuda asli Desa Bugbug, menjelaskan bahwa keberadaan Pura Gumang tidak dapat dipisahkan dari Pura Bukit Byaha yang terletak di Gili bernama Byaha, di sebelah selatan Bukit Gumang.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, Bhatara Gede Gumang, yang pada saat itu dikenal sebagai Sang Hyang Sinuhun Kidul, mempersunting Dewi Ayu Mas, putri Bhatara di Bukit Byaha, untuk dijadikan prameswari.

Setelah mereka menikah, mereka menuju Bukit Gumang dan mendirikan pura sebagai tempat tinggal mereka.

Bhatara Gede Gumang kemudian dikenal sebagai Ida Gede, dan hingga saat ini dipuja oleh masyarakat Desa Adat Bugbug.

Ida Gede kemudian memulai pembukaan areal persawahan dan pembangunan gubuk-gubuk.

Ia juga mengajarkan masyarakat sekitar untuk bertani dan beternak.

Wilayah tersebut meliputi Sabuni, Tegakin, Malegok, Lumpadang (Ulun padang), Belong, serta tempat pande di Malegok yang kini menjadi Pura Pande.

"Pembangunan ini kemudian diteruskan ke Mel Pahang, Pangiyu, Gantalan, Gorek, Lebah Kangin (Teba Kangin), dan Delod Poh," ungkap Sudiarta.

Pada masa itu, jumlah penduduk Desa Bugbug sekitar 120 orang, terdiri dari 8 pemimpin yang disebut Luput dan 112 orang Pengayah yang disebut Krama.

Mereka adalah asal mula terbentuknya Desa Bugbug dan Krama Desa Bugbug.

Ida Gede membagikan bukti tanah sawah kepada masyarakat untuk kesejahteraan dan biaya upacara keagamaan.

Pembagian tersebut meliputi 8 petak tanah sawah untuk ayah "luput" dan 112 petak tanah sawah untuk ayah krama.

Untuk mengairi sawah-sawah tersebut, Ida Gede membuat sungai disebelah barat Bukit Penyu yang disebut Tukad Buhu.

"Sebagai janji, setiap anak yang lahir, baik laki-laki maupun perempuan, akan melakukan upacara mapinton setiap dua tahun sekali saat Usaba Kadulu Gede di Pura Gumang," ungkapnya.

Setelah tinggal lama di gubuk-gubuk di area persawahan, pada suatu masa terjadi hujan deras yang menyebabkan banjir dan menghambat aktivitas masyarakat.

Maka Ida Gede memutuskan untuk menyatukan gubuk-gubuk tersebut.

Tempat pertama yang dipilih adalah Pangiyu, namun tempat tersebut ternyata kurang cocok.

Maka, Ida Gede meninjau daerah sebelah timur Bukit Penyu dan menemukan sebuah telaga berwarna biru yang bernama Telaga Ngembeng.

Di sinilah Ida Gede membangun desa dengan menimbun Telaga Ngembeng dan menyatukan gubuk-gubuk yang tersebar di area persawahan tersebut.

Desa ini kemudian diberi nama Desa Bugbug, yang artinya "bersatu". ***

 

Editor : I Putu Suyatra
#Pura gumang #bali #Mapinton #hindu #karangasem #tradisi #bugbug