BALI EXPRESS – Belum banyak yang mengetahui sumber mata air di kawasan pura milik umat Hindu Bali ini. Padahal memiliki aura spiritual sangat kuat untuk melukat.
Lokasi tempat melukat ini berada di Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa, Kelurahan Semarapura Kaja, Klungkung Bali, tepatnya di Pura Tirta Celempung.
Menurut tokoh masyarakat Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa yang diwawancarai sekitar tahun 2018 silam, tempat melukat di Pura Tirta Celempung memang belum dikenal luas oleh umat Hindu di Bali. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui keberadaannya.
Pura Tirta Celempung terletak di sebuah campuhan. Pura ini memiliki beberapa palinggih, termasuk Sanggaran Agung, Palinggih Ida Bhatara Wisnu, Manik Galih, dan Palinggih Pelipir.
Terdapat juga Bale Pangaruman atau Piyasan, Bale Pawedan, Bale Pagongan, dan Bale Panggungan.
Sejarah pembangunan pura ini tidak diketahui secara pasti, begitu pula dengan sumber mata airnya.
Konon, Pura Tirta Celempung ditemukan saat penggalian batu padas di area tersebut, di mana ditemukan sumber air dan arca emas yang hingga kini disungsung oleh desa adat setempat.
Pura ini memiliki tiga sumber mata air dengan fungsi berbeda. Debit air akan menurun saat musim hujan dan meningkat saat musim kemarau.
Dua sumber mata air dialirkan ke dalam pura, sementara satu lagi dialirkan ke luar pura.
Dua sumber mata air di dalam pura berjejer. Sumber air di sebelah timur, di depan Palinggih Pelipir, digunakan untuk upacara Dewa Yadnya. Beras untuk upacara dicuci di sini sebelum dihaturkan ke Palinggih Manik Galih.
"Secara simbolis, ngingsah beras itu ya di sini dulu," ujar tokoh masyarakat Desa Adat Besang Kawan Tohjiwa, I Wayan Sulendra kepada Bali Express.
Baca Juga: Fotret Nyeleneh, Bule di Bali Berpose di Atas Mesin Pertamini, Banjir Kecaman Warganet
Sumber mata air di depan Palinggih Ida Bhatara Wisnu digunakan untuk melukat. Banyak yang percaya bahwa melukat di sini bisa menyembuhkan berbagai penyakit.
"Mereka yang datang mungkin karena kepercayaan. Sering ada sulinggih melukat, balian, jro mangku, orang sakit juga banyak sembuh," tambah Sulendra.
Untuk melukat, banten yang dihaturkan tergantung pada tujuannya.
Di depan air pangelukatan terdapat dua patung, Sang Jogor Manik dan Sang Suratma, yang tidak boleh diganti atau dipindahkan.
Kedua patung ini diyakini ada sejak pura ini didirikan. Pada tahun 1980-an, saat pura direhab, seorang pedanda memperingatkan agar patung-patung tersebut tidak diganti atau dipindahkan.
Satu lagi sumber mata air berada di bangunan Bale Pengaruman atau Piyasan dan dialirkan ke luar pura.
Sumber air ini digunakan untuk kebutuhan sehari-hari warga, seperti mandi dan minum.
Meskipun sudah menjadi pelanggan PDAM, banyak warga Desa Besang Kawan Tohjiwa yang memilih mandi dan minum dari sumber air ini.
Namun, ada aturan khusus saat menggunakan sumber air ini. Warga yang mandi harus telanjang bulat dan tidak boleh mencuci atau melanggar pantangan tertentu.
Jika dilanggar, debit air akan mengecil dan desa harus mengadakan upacara mapag tirta.
Untuk menjaga privasi, tempat pemandian dibuat tertutup, satu untuk pria dan satu untuk wanita.
Sebelum nunas tirta pengelukatan di jeroan pura, pamedek harus mandi terlebih dahulu.
Baca Juga: Star Lake Glamping; Pengalaman Unik Menginap di Atas Danau Batur Kintamani
Dengan segala keunikannya, Pura Tirta Celempung menawarkan pengalaman spiritual yang mendalam bagi yang datang berkunjung dan melukat di sana.
Editor : Nyoman Suarna