Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Luhur Andakasa: Saksi Bisu Legenda Telur Angkasa yang Meledak di Desa Antiga Bali, Begini Kisahnya!

I Putu Mardika • Senin, 20 Mei 2024 | 18:56 WIB
PURA ANDAKASA: Menurut legenda, Pura Luhur Andakasa tercipta dari telur dari angkasa yang meledak di Desa Antiga, Karangasem Bali.
PURA ANDAKASA: Menurut legenda, Pura Luhur Andakasa tercipta dari telur dari angkasa yang meledak di Desa Antiga, Karangasem Bali.

BALI EXPRESS - Pura Luhur Andakasa menjadi salah satu pura dengan konsep Pengider Dewata Nawa Sanga sebagai stana Dewa Brahma.

Pura yang masuk dalam konsep Sad Kahyangan ini berlokasi di Banjar Pakel Desa Gegelang, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Bali.

Tempat pemujaan umat Hindu, khususnya di Bali ini  terletak di ketinggian sekitar 200 M dari permukaan laut, dikelilingi desa-desa di ketinggian 50 M.

Pura Andakasa sebagai padmabhuana, merupakan stana Sang Hyang Widhi dalam fungsinya sebagai nawadhikpalaka atau dewata nawa sanga.

Menurut pangider, pura ini berkedudukan di selatan, warnanya merah, aksaranya ‘Bang’, stana Dewa Brahma dengan senjatanya gada, wahananya angsa, dengan saktinya Dewi Saraswati.

Bukti adanya senjata gada (wrayang), sebagai senjata Dewa Brahma, terdapat di Pura Penyimpenan Banjar Kaler Desa Antiga, memperkuat pernyataan Pura Andakasa berfungsi sebagai pemujaan Dewa Brahma.

Pemangku Pura Luhur Andakasa Jero Mangku Nyoman Krenteng menjelaskan, menurut tradisi yang beredar luas di kalangan warga desa setempat, khususnya Desa Antiga dan Gaglang, pada zaman dahulu di Desa Antiga ada tiga butir telur jatuh dari angkasa.

Saat didekati, ketiga butir telur itu meledak dan mengeluarkan asap.

Dari Desa Antiga, asap tersebut berhembus ketiga arah, yaitu arah ke barat daya, ke barat laut dan ke utara.

Masyarakat Desa Antiga juga mendengar suara, bahwa asap yang mengarah ke barat daya itu adalah Dewa Brahmā.

Sementara itu asap yang mengarah ke barat laut adalah Dewa Wíṣṇu, sedangkan asap yang mengarah ke utara adalah Dewa Siwa.

Dewa Siwa menuju ke Bukit Pura Jati, Dewa Wíṣṇu menuju ke Bukit Cemeng, dan Dewa Brahmā menuju ke bukit yang kemudian disebut sebagai Bukit Andakasa.

Atas dasar itu Dewa Siwa dipuja di Pura Jati, Dewa Wíṣṇu dipuja di Pura Pucak Sari di Bukit Cemeng itu, dan Dewa Brahma atau yang dikenal pula sebagai Hyang Tugu, dipuja di Pura Andakasa.

“Berdasarkan pelbagai rontal dan data tertulis lainnya, diperkirakan Pura Andakasa dibangun oleh Mpu Kuturan sekitar abad kesebelas,” jelasnya.

Selain itu disebut-sebut pula bahwa Mpu Sangkulputih juga pernah tinggal dan bertapa di Pura Andakasa, sebelum pergi menuju ke Lampuyang dan Basakih.

Di palataran jeroan sisi timur Pura Andakasa terdapat empat palinggih utama.

Di ujung paling utara dari deretan tersebut terdapat Sanggar Agung. Di sebelahnya (ke arah selatan) terdapat Meru Tumpang Tiga.

Di sisi Meru ini terdapat sebuah palinggih, sthana Dewa Brahma atau Hyang Tugu itu. Selanjutnya, berturut-turut ada dua buah palinggih lagi, yaitu palinggih Sapta Pratala dan Palinggih Anglurah Agung.

“Dua lontar yaitu Padma Bhumi dan Padma Bhuana, menjelaskan bahwa yang di-stana-kan di Pura Andhakasa adalah Hyang widhi yang bergelar Hyang Brahma yang juga disebut Hyang Tugu,” paparnya.

Sehingga dalam kaitannya dengan kedudukan Tuhan sebagai Tri Murti, Pura Luhur Andakasa sebagai salah satu dari tri kahyangan agung, dimana Pura Luhur Andakasa sebagai penciptaan alam (utpeti).

Dengan demikian, Pura Luhur Andakasa adalah sebagai tempat suci memuja Hyang Widhi dalam perbawa-Nya sebagai Hyang Tugu atau Dewa Brahma, baik dalam kedudukannya sebagai kahyangan jagat, sad kahyangan, maupun kahyangan yang sesuai dengan konsepsi catur lokaphala, serta merupakan salah satu tri kahyangan agung.

Editor : Nyoman Suarna
#bali #meledak #Pura Luhur Andakasa #angkasa #pura #Desa Antiga #telur