BALI EXPRESS - Sebagai stana Dewa Brahma, pujawali di Pura Luhur Andakasa digelar secara rutin setiap 6 bulan (210 hari) sekali.
Saat piodalan Ida Bhatara Brahma nyejer selama tiga hari dan Nyineb pada Sukra Pon Medangsia. Selain Pujawali juga dilaksanakan Usaba Pangurip Bumi.
Selama ini pura setempat diyakini sebagai tempat mohon taksu.
Pemangku Pura Luhur Andakasa Jero Mangku Nyoman Krenteng menjelaskan, Pura Sad Kahyangan Andakasa diempon oleh 354 KK secara turun temurun, tersebar di 13 banjar adat.
Di antaranya Banjar Gegelang, Pakel, Babakan, Kelod, Kaler, Bengkel, Pangitebel, Pengalon, Yehmalet, Tengading, Labuhan, Seraya dan Ketug.
Ke-13 banjar ini merupakan bagian dari Desa Adat Gegelang dan Desa Adat Angantelu, Kecamatan Manggis.
Pangemponnya berbagi tugas, telah diklasifikasikan. Krama kiskis tugasnya mabersih, krama undagi melaksanakan pembangunan, dan krama pangayah, ngayah secara umum
“Saat pujawali di Pura Andakasa pemedek yang nangkil datang dari berbagai pelosok Bali. Mereka nangkil untuk memohon kerahayuan dan keselamatan,” tuturnya.
Pura Andakasa sebagai padmabhuana, merupakan stana Sang Hyang Widhi dalam fungsinya sebagai nawadhikpalaka atau dewata nawa sanga.
Menurut pangider, pura ini berkedudukan di selatan, warnanya merah, aksaranya ‘Bang’, stana Dewa Brahma dengan senjatanya gada, wahananya angsa, dengan saktinya Dewi Saraswati.
Bukti adanya senjata gada (wrayang), sebagai senjata Dewa Brahma, terdapat di Pura Penyimpenan Banjar Kaler Desa Antiga, memperkuat pernyataan Pura Andakasa berfungsi sebagai pemujaan Dewa Brahma.
Jero Mangku Nyoman Krenteng menjelaskan, menurut tradisi yang beredar luas di kalangan warga desa setempat, khususnya Desa Antiga dan Gaglang, pada zaman dahulu di Desa Antiga ada tiga butir telur jatuh dari angkasa.
Saat didekati, ketiga butir telur itu meledak dan mengeluarkan asap.
Dari Desa Antiga, asap tersebut berhembus ketiga arah, yaitu arah ke barat daya, ke barat laut dan ke utara.
Editor : Nyoman Suarna