BALI EXPRESS - Pura Sakti terletak di Desa Pejarakan, Kabupaten Buleleng tidak hanya menjadi tujuan untuk sembahyang, tetapi tempat melukat untuk memohon tamba (obat) dan kesembuhan.
Umat Hindu Bali dan yang datang dari luar Bali sering berbondong-bondong ke Pura Sakti karena ingin melihat keberadaan sumur purba di bawah pohon kroya.
Air sumur purba ini kerap digunakan untuk melukat untuk membersihkan diri dari energi negatif.
Sumur purba di Pura Sakti memiliki daya tarik tersendiri. Kedalaman sumur ini tidak bisa diukur, namun airnya selalu jernih dan tidak pernah kering, bahkan di musim kemarau.
Fenomena ini dianggap ajaib karena air sumur tidak berkurang ketinggiannya meskipun terdapat kali kecil di bawahnya yang seharusnya menyebabkan air sumur merembes ke kali tersebut.
Keajaiban air sumur ini tidak hanya dari fisiknya, tetapi juga kekuatan magis yang diyakini mampu menetralisir energi negative dan membantu proses penyembuhan.
Seorang balian (dukun), Jro Laksana, sering membawa pasiennya yang menderita sakit non medis untuk menjalani prosesi penglukatan di Pura Sakti.
Menurutnya, air sumur ini dapat membersihkan kekotoran batin dan energi negatif yang menyebabkan penyakit.
Saat prosesi melukat berlangsung, pasien yang terkena penyakit non medis seringkali bereaksi ketika air dari sumur diguyurkan ke tubuh mereka.
Reaksi ini bisa berupa teriakan, batuk-batuk, atau bahkan muntah-muntah.
Hal ini menunjukkan bahwa air tersebut sedang bekerja untuk menetralisir energi negatif dalam tubuh pasien.
Jro Laksana mengungkapkan bahwa hampir semua pasien yang mengalami sakit non medis sembuh setelah melukat di Pura Sakti.
Namun ia juga menyadari bahwa kesembuhan pasien sangat bergantung pada karma wasana (hukum karma) masing-masing individu.
Selain untuk penyembuhan, melukat di Pura Sakti juga merupakan langkah wajib sebelum melakukan persembahyangan.
Menurut Jro Nengah Tambun, seorang pemangku di Pura Sakti, prosesi melukat bertujuan untuk membersihkan badan secara lahir dan batin.
Setelah melukat, pemedek akan dituntun untuk melakukan pemujaan di setiap pelinggih (tempat pemujaan) yang ada di pura tersebut.
Pura Sakti memiliki enam palinggih utama, termasuk Palinggih Ratu Ayu Taman, Palinggih Ratu Niang Sakti Dalem Peed, dan Palinggih Dewa Wisnu.
Setiap pemedek diwajibkan untuk mepiuning (berdoa) di Palinggih Lebuh sebelum melanjutkan persembahyangan di palinggih-palinggih lainnya, dan akhirnya melukat di sumur purba sebelum melanjutkan sembahyang di palinggih utama.
Sumur purba ini tidak hanya digunakan untuk melukat, tetapi airnya juga bisa dibawa pulang untuk tirta guna keperluan upacara yadnya dan pengobatan.
Pura Sakti tidak pernah sepi dari pamedek, terutama pada hari-hari suci seperti Kajeng Kliwon, Purnama, Tilem, atau hari raya umat Hindu lainnya.
Meskipun prosesi penglukatan memiliki tata cara dan aturan tertentu, Jro Mangku Tambun menekankan bahwa sarana yang digunakan saat melukat diserahkan sepenuhnya kepada pemedek, sesuai kemampuan mereka.
"Kami hanya bertugas melayani," katanya.
Pura Sakti dengan sumur purba nya tetap menjadi tempat yang memadukan aspek spiritual dan pengobatan tradisional.
Baca Juga: Pelaksaan Study Tour di Sekolah Tuai Pro Kontra, Begini Tanggapan Sandiaga Uno
Banyak pamedek datang dari berbagai penjuru untuk merasakan ketenangan dan kesembuhan di tempat suci ini.
Editor : Nyoman Suarna