BALI EXPRESS - Tempat melukat ini diyakini mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit. Banyak keajaiban dirasakan langsung oleh umat Hindu Bali yang melukat di tempat ini.
Namanya Pura Manik Batu, terletak di kawasan Subak Kerdung, Pedungan, Denpasar, Bali dikenal sebagai tempat melukat bagi umat Hindu Bali.
Pura ini sempat hilang, kemudian muncul kembali pada tahun 2006. Sejak itu banyak umat Hindu Bali yang datang untuk mendapatkan kesembuhan melalui prosesi melukat di pura tersebut.
Jero Mangku Istri Ni Nyoman Rapen, saat diwawancarai Minggu (4/11) 2018 silam menuturkan, banyak masyarakat yang datang ke Pura Manik Batu setelah mendapatkan petunjuk melalui mimpi atau pawisik (wahyu).
Petunjuk tersebut akhirnya mengarahkan mereka ke Pura Manik Batu untuk malukat.
"Rata-rata orang yang malukat ke sini mengaku diarahkan oleh mimpi, atau oleh kerabat dan orang yang mereka kenal secara tidak sengaja," kata Jero Mangku Rapen kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Menurutnya, banyak orang sembuh setelah melukat di Pura Manik Batu.
Sekitar dua tahun lalu, tuturnya, ada orang lumpuh bisa kembali berjalan normal setelah melukat di Pura Manik Batu.
Begitu pula dengan orang yang mengalami gangguan psikologis atau gila, setelah melukat, secara perlahan kembali normal.
Kata pemangku tersebut, penyakit medis dan non-medis diyakini dapat disembuhkan dengan melukat di tempat ini.
Untuk melukat di Pura Manik Batu, umat Hindu Bali membawa pejati, bungkak nyuh gadang untuk nunas tamba, dan bungkak nyuh gading untuk melukat.
Prosesi melukat dimulai dari nista mandala dan berlanjut ke utamaning mandala pura.
Di nista mandala pemedek harus menghaturkan canang terlebih dahulu di Beji Pura yang ada di sebelah timur pura, tempat terdapatnya Palinggih dan patung Dewi Maruti.
Setelah menghaturkan canang, prosesi melukat dilakukan dengan bungkak yang dibawa, sebagai pembersihan secara niskala sebelum masuk ke madya mandala dan utamaning mandala pura.
Setelah melukat di Beji Pura, pemedek menuju madya mandala yang terdapat Palinggih Dewi Kwam Im.
Di tempat ini umat Hindu Bali atau pemedek menghaturkan canang dan memohon izin sesuai dengan tujuan kedatangan.
Selanjutnya, pemedek menuju utamaning mandala pura yang berhadapan dengan padmasana pura.
Di sini, banten pejati dihaturkan oleh Jero Mangku. Selain itu, pemedek juga menghaturkan canang di Pasimpangan Ratu Niang Sakti, Gedong, dan Patirtan Sudamala.
Di utamaning mandala, pemedek cukup sembahyang di depan padmasana.
Di tempat ini umat melaksanakan prosesi melukat sekaligus diberikan tamba dengan tirta sudamala yang diambil dari klebutan (sumber air suci) di pura tersebut.
Jero Mangku Rapen menekankan bahwa kesembuhan sangat bergantung pada ketulusan hati pemedek dan kehendak Tuhan atau sasuhunan yang bersthana di Pura Manik Batu.
"Saya hanya bisa membantu menghaturkan sesajen dan membantu ngelukat. Kesembuhan tergantung dari orangnya sendiri dan kehendak Tuhan atau sasuhunan yang malinggih di sini," ujarnya.
Prosesi melukat dan nunas tamba di Pura Manik Batu bisa dilakukan kapan saja, tanpa batasan hari dan waktu. Piodalan (upacara) di pura ini jatuh pada Wraspati Umanis Dunggulan, bertepatan dengan hari ditemukannya kembali pura tersebut, yang dirayakan setiap enam bulan sekali pada Kamis Manis Galungan.
Pura Manik Batu tetap menjadi tempat sakral bagi umat Hindu yang mencari kesembuhan dan ketenangan batin melalui prosesi melukat.
Di samping untuk memperkuat keyakinan bahwa kesembuhan sejati datang dari ketulusan hati dan berkat Tuhan.
Editor : Nyoman Suarna