Jantung Pura Bukit Sinunggal: Meru Tumpang Pitu dan Keberagaman Pelinggih, Ada yang Cocok untuk Pedagang
I Putu Mardika• Kamis, 23 Mei 2024 | 14:47 WIB
Pura Bukit Sinunggal, terletak di Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali
BALI EXPRESS - Meru Tumpang Pitu, bangunan utama Pura Bukit Sinunggal di Desa Tajun Kecamatan Kubutambahan Kabupaten Buleleng, Bali, dikelilingi tembok penyengker sebagai istana Ida Ratu Pucak Sinunggal, penguasa delapan penjuru mata angin.
Di dalamnya terdapat patung Batara Ganesha dan Palinggih Ida Sang Hyang Pasupati.
Di sebelah barat Meru, terdapat Pelinggih Pasimpangan Ratu Ayu Melanting (Pulaki) yang berdampingan dengan pohon beringin tua.
Di sebelahnya lagi, berdiri Palinggih Pasimpangan Ratu Gede Dalem Peed (Ratu Bagus Mecaling) yang berstana di Nusa Penida dan Palinggih Ratu Ngurah Tangkeb Langit (Ratu Wayan Tebeng).
Keberadaan Pelinggih Pasimpangan Ratu Ayu Melanting dan Ratu Gede Dalem Peed di Pura Bukit Sinunggal merupakan wujud bhakti umat yang ingin bersembahyang kepada Ratu Ayu Melanting dan Ratu Gede Dalem Peed, namun mungkin tidak dapat langsung ke Pura Pulaki dan Nusa Penida.
"Bagi pemedek yang berprofesi sebagai pedagang, mereka dapat memanjatkan doa di Pelinggih Ratu Ayu Melanting dengan harapan mendapatkan kelancaran dan rejeki," ungkap Jero Mangku Made Kerta, penjaga Pura Bukit Sinungga.
Tujuh Pelinggih Sapta Dewata dan Keistimewaan Pura Bukit Sinunggal
Di sebelah timur Pura Bukit Sinunggal, terdapat tujuh pelinggih yang mewakili Sapta Dewata, yaitu:
Ratu Hyang Geni Jaya (berasal dari Ratu Lempuyang)
Ratu Hyang Putra Jaya (berasal dari Besakih)
Ratu Dewi Danuh (berasal dari Danu Batur)
Ratu Hyang Tumuwuh (berasal dari Andakasa)
Ratu Hyang Tugu (berasal dari Batukaru)
Ratu Hyang Manik Gayang (berasal dari Manik Gumawang)
Ratu Hyang Gumawang (berasal dari Ratu Puncak Mangu)
Keberadaan pelinggih-pelinggih ini menjadikan Pura Bukit Sinunggal dijuluki "Besakihnya Buleleng".
Di masa lampau, saat kendaraan bermotor belum umum, umat Hindu di Buleleng yang ingin bersembahyang di Pura Besakih cukup datang ke Pura Bukit Sinunggal karena semua pelinggih di Besakih ada di sini.
Selain pelinggih-pelinggih tersebut, terdapat beberapa bangunan lain di Pura Bukit Sinunggal, seperti gedong penyimpanan, bale gong, pesamuan, dan bale dana punia.
Berdasarkan petunjuk dari Jero Mangku Made Kerta, para pemedek yang ingin bersembahyang di pura ini harus terlebih dahulu membersihkan diri di Beji Pura Air Tabar (yeh Tabah).
Setelah itu, mereka melanjutkan ke Pura Dasar Bhuwana, tempat berstana Batara Siwa Budha, sebelum akhirnya menuju Pura Bukit Sinunggal.
Pujawali di Pura Bukit Sinunggal dihitung berdasarkan kalender sasih, bertepatan dengan Rahina Purnama Kapat atau yang dikenal sebagai Bhatara Turun Kabeh.
Pengempon pura ini berasal dari 11 desa di Kecamatan Kubutambahan, yaitu Desa Tajun, Tunjung, Depa, Bayad, Sembiran, Pacung, Bangkah, Tamblang, Tangkid, Mangening, dan Kelampuak, yang secara bergiliran melaksanakan pengnyar saat Pujawali tiba.
"Jika sudah pujawali, biasanya berlangsung hingga tujuh hari. Ini dimanfaatkan oleh umat di Bali maupun luar Bali untuk bersembahyang di Pura Bukit Sinunggal," katanya.
Namun, masyarakat yang ingin bersembahyang pada hari-hari seperti Purnama-Tilem, Kajeng Kliwon, Hari Raya Saraswati, Siwaratri, dan rerahinan lainnya tetap akan dilayani.
Sebab, Pura Bukit Sinunggal memiliki 8 pemangku yang secara bergiliran melayani pemedek. ***