BALI EXPRESS - Pura yang terletak di Jalan Sudirman, Kelurahan Banyuasri, Kecamatan Buleleng ini merupakan salah satu tempat melukat bagi umat Hindu Bali.
Bahkan pura ini menjadi salah satu tempat melukat favorit bagi umat Hindu Bali di Buleleng.
Selain sebagai tempat melukat, pura ini juga dikenal sebagai tempat untuk memohon kesembuhan atau nunas tamba (obat) bagi mereka yang punya penyakit non medis.
Namanya Pura Tirta Sudhamala. Bagi umat Hindu Bali yang belum tahu lokasinya, Patung Dewa Ruci yang terletak di simpang tiga antara Jalan Udayana dengan Jalan Sudirman Singaraja Bali dapat dijadikan sebagai patokan.
Di sebelah barat patung tersebut terdapat Gang VI yang menjadi jalur menuju Pura Sudhamala.
Bali Express (Jawa Pos Group) pernah berkunjung ke Pura Tirta Sudamala pada Minggu (14/11) siang. Dalam kunjungannya, koran ini disambut dengan sangat ramah oleh
Jro Mangku Gede Ferry Hariawan, pemangku Pura Tirta Sudamala, saat diwawancarai tahun 2021 silam mengatakan, tidak ada yang tahu pasti sejarah tempat melukat di pura ini.
Meskipun tidak ada catatan sejarah yang pasti, para pendahulunya mengatakan, bahwa tempat melukat ini diperkirakan sudah ada pada zaman Raja Panji Sakti.
Sebab pada masa itu, Sungai Banyumala sering digunakan sebagai benteng perbatasan Kerajaan Buleleng.
Beberapa peristiwa peperangan terjadi di sepanjang sungai ini, seperti perang antara Sambangan dengan Bangkang, antara Bangkang dengan Bangah, dan antara Bangkang dengan Banyumala.
Akibat peperangan tersebut, banyak penduduk yang gugur dan mayat mereka dibuang ke Sungai Banyumala, yang menyebabkan air sungai menjadi tercemar.
Pada suatu ketika, terjadi ledakan besar di Sungai Banyumala yang terdengar hingga radius 500 meter.
Setelah ledakan itu, penduduk setempat menemukan sebuah sumber air yang memancar deras di tempat ledakan tersebut.
Sumber air ini berasal dari sebuah goa di sungai tersebut. Seorang penduduk yang mengalami kesurupan pada saat itu meyakinkan bahwa air yang memancar tersebut adalah air suci yang dapat membersihkan Sungai Banyumala yang tercemar dan terkontaminasi.
Dari kejadian tersebut, masyarakat Desa Banyuasri memutuskan untuk menata kembali sumber air tersebut, yang awalnya dikenal sebagai Tukad Banyumala.
Saat proses penataan tersebut, salah satu dari mereka mengalami kerasukan oleh Ida Petapakan bernama Dewa Ayu Manik Sudhamala.
Beliau memberikan petunjuk agar pura yang akan dibangun diberi nama Pura Tirta Sudhamala.
Pura Tirta Sudamala bukan hanya menjadi tempat melukat, tetapi juga menjadi saksi sejarah perjalanan spiritual dan perjuangan masyarakat Banyuasri.
Keberadaannya memberikan kedamaian dan kesucian bagi siapa pun yang mengunjunginya, menjadikannya tempat yang tidak boleh dilewatkan bagi mereka yang mencari kesejukan dan kesucian di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern.
Editor : Nyoman Suarna