Upacara Tutug Kambuhan bagi Umat Hindu Bali: Ada Tiga Lokasi Sentral Upacara, Makna dan Keunikan Ritual Pembersihan Jiwa
I Putu Suyatra• Sabtu, 25 Mei 2024 | 13:57 WIB
Upacara Bulan Pitung Dina
BALI EXPRESS - Umat Hindu Bali dikenal dengan kekayaan adat dan budayanya, yang melahirkan berbagai upacara penuh makna, mulai dari sebelum bayi lahir hingga meninggal dunia.
Salah satu upacara Hindu Bali yang sarat makna adalah Tutug Kambuhan atau Bulan Pitung Dina.
Apa saja makna dan keunikan dari ritual ini?
Makna Upacara Tutug Kambuhan
Tutug Kambuhan adalah upacara yang bertujuan untuk membersihkan jiwa bayi dari pengaruh roh jahat.
Upacara ini juga untuk membersihkan ibu bayi dari noda dan kotoran (sebel kandel) atau perbuatan tercela yang mungkin telah dilakukan.
Menurut lontar Dharma Kahuripan, upacara ini merupakan bentuk rasa terima kasih kepada Nyama Bajang yang diyakini menjaga bayi selama dalam kandungan.
"Upacara ini juga disebut Bulan Pitung Dina atau Macolongan," ungkap Ida Pedanda Gde Manara Putra Kekeran.
Pelaksanaan Upacara
Upacara Tutug Kambuhan dilakukan saat bayi berusia 42 hari, mengikuti perhitungan wuku atau sekitar 6 minggu.
Pada usia ini, tali pusar bayi sudah putus, kulit bayi sudah berganti, dan fungsi tubuh seperti keringat, air mata, dan pembuangan lainnya sudah lancar.
Bagi ibu, aliran kotor dalam rahim juga sudah berhenti setelah enam minggu.
Upacara ini dipimpin oleh seorang pendeta atau sulinggih dan dilaksanakan di rumah.
Tiga Lokasi Sentral Upacara
1. Dapur
Tempat pemujaan terhadap Dewa Brahma, sebagai Dewa Pencipta.
2. Tempat Pemandian
Pemujaan terhadap Dewa Wisnu, sebagai Dewa Pemelihara.
3. Sanggah Kamulan
Tempat pemujaan terhadap Dewa Siwa, sebagai Dewa Pelebur.
Upacara diawali dengan Panyepihan, yang bertujuan mengembalikan bayi dan orang tua ke titik nol atau tanpa dosa.
Panyepihan dilaksanakan di dapur dan tempat pemandian.
"Setelah itu, upacara dilanjutkan di Merajan, yang merupakan tempat suci bagi leluhur bayi yang berstana di sana," ungkapnya.
Tradisi Macolongan
Keunikan upacara ini terletak pada tradisi macolongan, yang disimbolkan dengan dua ekor ayam pitik.
Namun, upacara tidak boleh dilaksanakan jika ibu bayi masih mengeluarkan darah pasca kelahiran.
Doa dan Persembahan
Upacara dimulai dengan pembacaan doa oleh pendeta yang menghaturkan sesajian sebagai instrumen pembersihan dan kesucian bayi.
Tujuannya adalah untuk memohon kesejahteraan, kesuksesan, dan perlindungan bagi bayi.
Prosesi diakhiri dengan Natab dan Dilukat, serta persembahyangan kepada Sanghyang Widhi Wasa.
Upacara Tutug Kambuhan mencerminkan kekayaan budaya dan kepercayaan masyarakat Bali yang terus dilestarikan hingga kini.
Keunikan dan makna mendalam dari setiap tahapannya menjadikan upacara ini sebagai salah satu warisan budaya yang penting untuk dipahami dan dilestarikan. ***