Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Memahami Konsep Rarapan dalam Ajaran Tri Hita Karana Hindu Bali: Tujuan dan Manfaatnya

I Putu Suyatra • Sabtu, 25 Mei 2024 | 14:21 WIB

Makna Rarapan dalam Hindu Bali
Makna Rarapan dalam Hindu Bali

BALI EXPRESS - Tri Hita Karana adalah konsep Hindu Bali yang mendasari keseimbangan hidup dan harmoni di Bali.

Konsep ini menekankan pentingnya menjaga keseimbangan agar semua komponen, baik sekala (terlihat) maupun niskala (tidak terlihat), dapat hidup berdampingan tanpa saling mengganggu.

Salah satu ritual penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Hindu Bali adalah Rarapan.

Apa Itu Rarapan?

Rarapan adalah persembahan sehari-hari dalam masyarakat Hindu Bali, berasal dari kata 'Gagapan' yang berarti oleh-oleh.

Biasanya, oleh-oleh diberikan kepada makhluk sekala atau sesama manusia, tetapi Rarapan ditujukan kepada makhluk niskala yang tidak terlihat.

Mangku I Wayan Satra menjelaskan bahwa makhluk niskala ini diyakini dapat mengganggu manusia jika tidak dihormati dengan baik .

Tempat dan Bentuk Persembahan Rarapan

Rarapan umumnya dihaturkan di tempat-tempat yang dianggap angker atau memiliki penunggu gaib, seperti perempatan jalan, pinggir jalan, jaba pura, areal bekerja, pohon besar, dan jembatan.

Persembahan ini sering berupa rokok kretek, ketela rebus, jagung, jaja injin, serta berbagai macam permen atau snack modern.

"Pokoknya, apa saja yang dikonsumsi manusia dan sesuai dengan etika agama Hindu, itulah yang dijadikan Rarapan," tandas Mangku Satra.

Pentingnya Rarapan dalam Kehidupan Sehari-hari

Rarapan dilakukan untuk memberikan oleh-oleh kepada makhluk gaib agar mereka tidak mengganggu manusia dan diharapkan dapat membantu manusia.

Rarapan merupakan bagian dari ajaran Tri Hita Karana, yang mengajarkan pentingnya membangun hubungan harmonis antara manusia dengan alam niskala.

Pedagang, misalnya, sering menghaturkan Rarapan berupa jagung, ubi, atau gebogan kepada Bhuta Kala dan Ida Bhatari Melanting, Dewi Perekonomian, agar usaha mereka lancar dan menguntungkan .

Tujuan dan Manfaat Rarapan

Tujuan utama Rarapan adalah penyomia atau penetralisasi, meskipun skalanya lebih kecil dari segehan.

Hal ini menunjukkan bahwa umat Hindu Bali dalam kesehariannya selalu memohon kesejahteraan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa dan menjaga keharmonisan hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan penguasa gaib.

Makhluk gaib yang menerima Rarapan bisa berupa Catur Sanak, wong samar, tonya, banaspati, ancangan Bhatara, dan atma yang kesasar.

Dengan Rarapan, diharapkan semua makhluk menjadi tenang dan memberikan kedamaian.

Melalui Rarapan dan ajaran Tri Hita Karana, masyarakat Hindu Bali terus menjaga keseimbangan dan harmoni hidup, menjadikan Bali sebagai contoh keberagaman budaya dan spiritual yang kaya. *** 

 
 
Editor : I Putu Suyatra
#bali #Rarapan #Tri Hita Karana #wong samar #Catur sanak #niskala #hindu #bhuta kala