DENPASAR, BALI EXPRESS - Purnama dan Tilem adalah dua hari suci yang sangat dihormati oleh umat Hindu, khususnya di Bali.
Purnama jatuh setiap malam bulan penuh (Sukla Paksa), sedangkan Tilem dirayakan setiap malam bulan mati (Kresna Paksa).
Kedua hari suci ini dirayakan setiap 29 atau 30 hari sekali.
Mangku I Wayan Satra menjelaskan bahwa pada hari Purnama, umat Hindu melakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Candra atau Dewa Bulan, sedangkan pada Tilem, pemujaan ditujukan kepada Sang Hyang Surya.
"Keduanya adalah manifestasi dari Sang Hyang Widhi Wasa yang berfungsi sebagai pelebur segala kekotoran (Mala)," kata Mangku Satra kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Pada kedua hari ini, Mangku Satra menambahkan, umat Hindu hendaknya melaksanakan persembahyangan dan upacara yadnya.
Beberapa sloka yang berkaitan dengan hari suci Purnama dan Tilem ini terdapat dalam Lontar Sundarigama.
Umat Hindu sangat meyakini kesucian tinggi pada hari Purnama, yang disebut 'Devasa Ayu' atau hari baik.
Setiap hari suci yang bertepatan dengan Purnama disebut 'Nadi'.
"Namun, tidak semua hari Purnama disebut ayu, tergantung juga dari petemon dina dalam wariga," jelas Mangku Satra.
Tilem merupakan manifestasi dari Sang Hyang Rudra sebagai wujud Sang Hyang Yamadipati (Dewa Kematian) dengan kekuatan Pralina (Pamulihan Maring Sanngkan Peran).
Karenanya, umat Hindu secara tekun melaksanakan persembahan dan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Dalam Purwana Tattwa Wariga dijelaskan bahwa persembahan pada Tilem bertujuan agar roh umat Hindu yang tekun bersembahyang tidak tersesat (masuk neraka) setelah meninggal dunia.
"Sebaliknya, roh mereka diberikan jalan ke swarga loka oleh Sang Hyang Yamadipati," tambah Mangku Satra.
Menurut sastra Agama Hindu, Lontar Purwa Gama menuntun umat Hindu untuk selalu melaksanakan suci laksana, khususnya pada hari suci Purnama dan Tilem.
Tujuannya adalah untuk mempertahankan dan meningkatkan kesucian diri, terutama bagi para wiku atau pemuka agama, untuk kesejahteraan alam dan isinya.
"Semua makhluk akan kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa, tergantung pada tingkat kesucian masing-masing," kata Mangku Satra.
Proses penyucian diri dalam agama Hindu menekankan pada 'Suci Laksana', yang mencakup pelaksanaan Catur Yoga.
"Catur Yoga ini dapat menyucikan Stula Sarira (badan kasar) dan Suksma Sarira (Atma) yang ada pada diri manusia, khususnya umat Hindu Bali," ujar Satra.
Makna dan Upacara
- Purnama: Dirayakan dengan memuja Sang Hyang Candra (Dewa Bulan) sebagai simbol kesucian, kejernihan, dan kedamaian. Umat Hindu melakukan persembahyangan dan meditasi untuk memohon penyucian diri, ketenangan pikiran, dan pencapaian moksa.
- Tilem: Dirayakan dengan memuja Sang Hyang Surya (Dewa Matahari) sebagai simbol kekuatan, transformasi, dan penciptaan kembali. Umat Hindu melakukan persembahyangan dan meditasi untuk memohon kekuatan untuk melawan kejahatan, memohon keselamatan, dan memohon agar roh yang meninggal mendapat tempat yang layak.
Kesucian dan Keberuntungan
- Purnama: Dipercaya sebagai hari yang sangat suci ("Devasa Ayu") dan membawa keberuntungan. Umat Hindu sering melakukan ritual khusus seperti "Nadi" pada hari Purnama.
- Tilem: Dipercaya sebagai waktu untuk introspeksi diri dan memohon pengampunan dosa. Umat Hindu melakukan persembahyangan khusus untuk memohon penyucian diri dan memohon agar roh yang meninggal mendapat tempat yang layak.
Penyucian Diri
- Suci Laksana: Proses penyucian diri yang ditekankan pada hari Purnama dan Tilem. Melambangkan penyatuan Catur Yoga (Bhakti, Jnana, Karma, dan Yoga) untuk menyucikan diri secara lahir dan batin.
- Manfaat: Membantu mencapai kesucian diri, ketenangan pikiran, dan kesehatan spiritual.
Kesimpulan
Purnama dan Tilem adalah hari suci penting bagi umat Hindu untuk melakukan penyucian diri, memohon berkah, dan mencapai kedamaian spiritual.
Umat Hindu di Bali merayakan hari-hari ini dengan penuh khusyuk dan dedikasi. ***
Baca Juga: Misteri Setra Gandamayu di Bali: Kuburan Berbau Mayat, Penampakan Ular, dan Pusat Anugerah
Editor : I Putu Suyatra