- Purnama: Dirayakan setiap 30 hari sekali, melambangkan kesucian, kejernihan, dan kedamaian. Umat Hindu melakukan persembahyangan dan meditasi untuk memohon penyucian diri, ketenangan pikiran, dan moksa.
- Tilem: Dirayakan setiap 30 hari sekali, melambangkan kekuatan, transformasi, dan penciptaan kembali. Umat Hindu melakukan persembahyangan dan meditasi untuk memohon kekuatan untuk melawan kejahatan, memohon keselamatan, dan memohon agar roh yang meninggal mendapat tempat yang layak.
Hari Baik dan Hari yang Harus Dihindari
- Hari Baik: Umumnya, Purnama dan Tilem dianggap sebagai hari baik untuk melakukan pemujaan. Namun, Mangku I Wayan Satra menjelaskan bahwa ada beberapa hari yang harus dihindari, yaitu:
- Hari Berek Tawukan: Pertemuan Kajeng, Kliwon, Sabtu (Saniscara) dan Purnama. Umat Hindu tidak diperkenankan melakukan pemujaan dan upacara Yadnya. Sang Wiku juga tidak boleh melaksanakan pujanya pada hari itu.
- Kala Paksa: Pertemuan Kala Paksa dengan Purnama. Upacara dan pemujaan tidak disarankan, termasuk bagi Sang Wiku. Dipercaya bahwa pada hari ini, yang dipuja adalah bhuta kala, sehingga pemujaan menjadi mubazir.
- Alasan Menghindari Hari-hari Tertentu:
- Dipercaya bahwa pada hari-hari tersebut, energi negatif lebih kuat sehingga pemujaan tidak optimal.
- Melaksanakan pemujaan pada hari-hari tersebut dapat membawa kesialan dan kurang harmonis.
Baca Juga: Dulu Terkenal Angker, Kini Jadi Tempat Melukat Favorit, Dari Memohon Kesembuhan hingga Keturunan
Kesimpulan
Purnama dan Tilem merupakan hari suci yang penting bagi umat Hindu untuk melakukan pemujaan dan penyucian diri.
Namun, penting untuk memahami hari-hari yang harus dihindari agar pemujaan lebih optimal dan membawa keberuntungan. ***