Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Fungsi dan Makna Guwungan Bali: Sangkar Ayam yang Kaya Makna dan Ritual Hindu

I Putu Suyatra • Rabu, 29 Mei 2024 | 01:35 WIB
Guwungan memiliki makna tersendiri dalam ritual Hindu Bali.
Guwungan memiliki makna tersendiri dalam ritual Hindu Bali.

BALI EXPRESS - Guwungan, atau sangkar ayam dalam bahasa Bali, adalah salah satu benda yang erat dengan kehidupan masyarakat Hindu Bali.

Terbuat dari bambu dengan bentuk dan anyaman khas, guwungan bisa ditemui hampir di setiap rumah di desa-desa.

Selain untuk mengurung ayam aduan, guwungan juga memiliki peran penting dalam berbagai ritual Hindu Bali.

Guwungan dalam Ritual Hindu Bali

Guwungan sering digunakan dalam berbagai ritual, seperti mengubur ari-ari, upacara abulan pitung dina (satu bulan tujuh hari), dan matebus.

Saat mengubur ari-ari di pekarangan, guwungan berfungsi sebagai penutup ari-ari yang telah dikubur bersama sesajen dan perlengkapan lainnya.

Di atas gundukan tanah tersebut, diletakkan batu hitam dan lampu dari minyak kelapa, serta brotowali dan pandan berduri, yang kemudian ditutup dengan guwungan yang belum pernah digunakan atau sukla.

Dalam upacara satu bulan tujuh hari dan matebusan, guwungan digunakan untuk menutup bayi atau orang yang mengikuti prosesi panebusan.

Setelah ditutup, mereka diperciki tirta panglukatan dan sesajen lainnya, melambangkan penyucian jiwa dan fisik.

Makna dan Filosofi Guwungan

Menurut Dr. Drs. I Ketut Sumadi, M.Par, akademisi UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, guwungan merupakan simbol yang memiliki makna mendalam dalam budaya Bali.

"Dalam ritual abulan pitung dina dan matebusan, guwungan melambangkan kandungan seorang ibu, tempat tumbuhnya kehidupan baru," katanya.

"Saat seseorang ditutup dengan guwungan, secara simbolis ia diberikan berbagai bentuk ruwatan untuk memperoleh kebersihan jiwa dan fisik," tambahnya.

Guwungan terbuat dari bambu dan rotan, yang masing-masing memiliki simbolisme tersendiri.

Bambu, yang disucikan dalam budaya Bali, melambangkan bayu (tenaga), sabda (suara), dan idep (pikiran).

Rongga bambu yang kosong namun kuat mencerminkan kekuatan dan keluwesan yang harus dimiliki manusia.

Bambu juga memiliki sekat-sekat atau buku-buku yang melambangkan pengendalian diri dan tahapan hidup.

Rotan, yang lebih lentur dan alot dari bambu, melambangkan kualitas diri yang terus ditingkatkan tanpa melupakan persatuan dan kerendahan hati.

Bentuk anyaman bambu yang unik, berupa segi enam atau perpaduan dua segitiga, melambangkan sad ripu atau enam musuh dalam diri manusia: kama (nafsu), lobha (tamak/rakus), krodha (kemarahan), moha (kebingungan), mada (mabuk), dan matsarya (dengki/iri hati).

Simbolisme Mendalam

Jika ditambah dengan lengkungan rotan di atasnya, guwungan juga melambangkan Sapta Timira atau tujuh kegelapan dalam diri manusia, seperti surupa (mabuk kecantikan), dhana (mabuk harta), guna (mabuk kepintaran), kulina (mabuk keturunan ningrat), yowana (mabuk masa muda), sura (mabuk minuman keras), dan kasuran (mabuk kekuatan).

Sifat-sifat ini harus dibersihkan dari dalam diri manusia.

Perpaduan dua segitiga yang menghadap ke atas dan ke bawah pada guwungan juga melambangkan pertemuan purusha (unsur kejiwaan) dan pradana (unsur kebendaan), simbol proses penciptaan dan kehidupan.

Dengan demikian, guwungan bukan hanya sekadar sangkar ayam, tetapi juga sarat akan makna dan filosofi yang mendalam dalam kehidupan masyarakat Bali.

Kehadiran Guwungan dalam Ritual Hindu

Guwungan hadir dalam berbagai ritual Hindu Bali, seperti:

  • Mengubur Ari-ari: Guwungan digunakan sebagai penutup ari-ari yang dikubur di pekarangan rumah, bersama dengan sesajen dan perlengkapan lainnya.
  • Abulan Pitu Dina (Satu Bulan Tujuh Hari): Guwungan digunakan untuk menutupi bayi dalam ritual ini, melambangkan perlindungan dan pembersihan spiritual.
  • Matebusan: Guwungan digunakan untuk menutupi orang yang mengikuti prosesi penebusan dosa, melambangkan prosesi penyucian jiwa dan raga.

Baca Juga: Dulu Terkenal Angker, Kini Jadi Tempat Melukat Favorit, Dari Memohon Kesembuhan hingga Keturunan

Simbolisme Guwungan

Lebih dari sekadar wadah, guwungan memiliki makna simbolis yang kaya:

  • Kandungan Seorang Ibu: Guwungan melambangkan kandungan seorang ibu, tempat kehidupan baru tumbuh. Dalam ritual, guwungan menutupi bayi/orang yang mengikuti prosesi, menandakan kelahiran kembali secara spiritual.
  • Pengendalian Diri: Bambu penyusun guwungan memiliki sekat-sekat (buku-buku) yang melambangkan pengendalian diri. Manusia harus mampu mengendalikan berbagai tahapan kehidupan dan nafsu yang ada dalam dirinya.
  • Persatuan dan Kesatuan: Rotan yang melilit anyaman bambu melambangkan kelenturan dan kekuatan. Manusia yang telah mencapai kualitas diri yang baik harus tetap merangkul orang lain dan membangun persatuan.
  • Pembersihan Diri: Lubang guwungan berbentuk segi enam melambangkan Sad Ripu (enam musuh dalam diri manusia), dan lengkungan rotan di atasnya melambangkan Sapta Timira (tujuh kegelapan dalam diri manusia). Guwungan menjadi simbol pembersihan sifat-sifat negatif ini.
  • Penciptaan: Perpaduan segitiga yang menghadap ke atas dan ke bawah melambangkan pertemuan purusha (unsur kejiwaan) dan pradana (unsur kebendaan), proses penciptaan kehidupan.

Kesimpulan

Guwungan adalah simbol penting dalam budaya Bali, digunakan dalam berbagai ritual dan penuh dengan makna filosofis.

Sebagai sangkar ayam sekaligus alat upacara, guwungan mencerminkan kekayaan budaya dan spiritual masyarakat Hindu Bali.

Melalui berbagai ritual yang melibatkan guwungan, nilai-nilai tradisional dan spiritual terus terjaga dan diwariskan dari generasi ke generasi. *** 

 
 
Editor : I Putu Suyatra
#guwungan #ritual #bali #Ari-Ari #sangkar ayam #hindu #tradisi