Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Berani Coba?Aura Mistis Melukat di Bawah Tebing, Ada 21 Sumber Air yang Bertuah

I Putu Mardika • Rabu, 29 Mei 2024 | 05:29 WIB

Penglukatan Taman Pencampuhan Sala yang terletak di Desa Abuan, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli, Bali
Penglukatan Taman Pencampuhan Sala yang terletak di Desa Abuan, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli, Bali
BANGLI, BALI EXPRESS-Penglukatan Taman Pencampuhan Sala yang terletak di Desa Abuan, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli, Bali layak dikunjungi bagi pemedek yang ingin melukat.

Meski baru dibuka kepada Masyarakat umum sejak tahun 2017 lalu, namun pengunjung senantiasa ramai lantaran terbukti akan khasiatnya setelah melukat.

Sebelum ramai dikunjungi umat Hindu dari pelosok Bali, awalnya lokasi Penglukatan Taman Pencampuhan Sala adalah tempat melukat biasa oleh krama desa adat Sala, saat melakukan petirtaan.

Di tempat ini memang ada sumber mata air yang disucikan sebagai tirta penglukatan

Cukup banyak ada sumber mata air yang memiliki sejarah, khasiat dan kekuatannya yang beragam.

Dari sanalah muncul pemikiran untuk merenovasi tempat penglukatan sebagai taman yang indah dan dijadikan sebagai tempat wisata.

Baca Juga: SIAP-SIAP!!Melukat di Pura Kedatuan Raksa Sidhi Bisa Muntah-Muntah jika Ada Penyakit

Pemedek akan disuguhkan dengan pemandangan yang indah dengan dikelilingi pepohonan yang rimbun. Suara air pancoran pun kian menambah kekusyukan saat hendak melakukan melukat.

Penglingsir Desa Adat Sala, Ketut Kayana menjelaskan proses pembangunan dari Pura Taman Pecampuhan ini dilakukan bertahap.

Pertama, pelinggih-pelinggih di pura taman yang merupakan pelinggih pokok diangkat setinggi 25 meter.

Kemudian, barulah di areal jaba sisi ditata. Nah tempat penglukatan ini memang ditata secara gotong royong oleh Masyarakat setempat.

Dana yang dipakai bersumber dari dana ppunia masyarakat di Desa Sala dan luar desa untuk mepunia

Ada juga bantuan dari pemerintah kabupaten Bangli dan Pemprov Bali. Hal inilah yang membuat bangunannya tertata rapi seperti sekarang.

Dikatakan Ketut Kayana, semua bangunan yang ada di areal tempat penglukatan ini sesuai dengan konsep Catur Yuga atau empat jaman dalam perhitungan waktu menurut Hindu.

Di areal ini terdapat lingga sebagai perwakilan di jaman Kerta Yuga.

“Misal di jaman kerta yuga ada lingga yang komplit. Ada lingga terdiri dari tiga bhaga. Ada Rudra Bhaga, Wisnu Bhaga dan Brahma Bhaga. Dan di lingga ini juga diisi dengan kelinggihan,” jelasnya.

Ada pula berupa Lawangan Situbanda. Lawangan ini merupakan terdapat patung Hanoman. Patung Hanoman ini di sebagai perwakilan era Treta Yuga, yakni era Rama dan Sita.

Kemudian di jaman ketiga, Dwapara Yuga diwujudkan dalam bentuk bangunan atau patung Krisna dan dua naga di jembatan. Hal ini adalah potongan cerita Arjuna Pramada

“Kalau yuga yang keempat adalah Kali Yuga, yang disimbolkan sebagai umat manusia yang sedang menjalani kehidupan,” ungkapnya.

Baca Juga: Dulu Terkenal Angker, Kini Jadi Tempat Melukat Favorit, Dari Memohon Kesembuhan hingga Keturunan

Meski baru dibuka sementara, pengunjung yang datang langsung membludak. Mereka bahkan datang tidak hanya sekali, tetapi sudah berulang kali untuk menikmati aura spiritual dari tempat melukat ini

Dikatakan Ketut Kayana, di areal penglukatan ini bisa ditemukan sejumlah bebatuan yang dimohon dari berbagai tempat di Bali dan luar Bali.

Seperti batu dari Pura Batu Klotok, Tirta Empul, sehingga menjadi semakin mistis.

Tidak lupa selain batu yang dimohon bahkan ada batu yang dimohon langsung di Jawa, seperti Gunung Semeru yakni Watu Klosot hingga batu di sepanjang Sungai Gangga.

“Mungkin aura ini membuat tempatnya menjadi suci dan taksu yang luar biasa,” paparnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#melukat #bali #bangli #hindu #desa sala #penglukatan