BALI EXPRESS - Di tengah maraknya isu intoleransi, Pura Negara Gambur Anglayang di Desa Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali, hadir sebagai bukti nyata toleransi dan keberagaman yang telah tertanam kuat dalam budaya masyarakat Hindu Bali.
Pura ini memiliki keunikan tersendiri, yaitu adanya beberapa palinggih (tempat suci) yang mencerminkan keberagaman agama dan etnis.
Sejarah Pura Negara Gambur Anglayang
Pura Negara Gambur Anglayang didirikan pada tahun 1260 (abad ke-13) di atas pelabuhan dagang yang ramai bernama Tabaning atau Kuta Baneng.
"Dahulu, tempat ini menjadi pusat perdagangan Nusantara, di mana pedagang dari berbagai suku, agama, dan ras berkumpul," ungkap Nyoman Laken, seorang pengempon Pura Negara Gambur Anglayang.
Kisah di Balik Keunikan Pura
Suatu hari, sebuah kapal dagang dengan penumpang dari berbagai etnis, termasuk Tionghoa, Melayu, dan Sunda, bersandar di Pantai Tabaning.
Mereka beragama Islam dan sedang mencari barang dagangan. Namun, kapal mereka mengalami kebocoran dan tidak bisa melanjutkan perjalanan.
Para awak kapal dan penduduk pantai berusaha memperbaiki kapal, namun sia-sia.
Salah satu awak kapal kemudian mengajak teman-temannya untuk bersembahyang di palinggih di pesisir Kuta Baning.
Mereka berjanji untuk membangun tempat suci jika kapal mereka berhasil diperbaiki.
Doa mereka terjawab. Kapal berhasil diperbaiki dan mereka melanjutkan perjalanan.
Sebagai bentuk rasa syukur, mereka membangun Pura Negara Gambur Anglayang, sebuah pura yang mencerminkan keberagaman agama dan etnis.
Pesan Moral:
Pura Negara Gambur Anglayang merupakan bukti nyata toleransi dan keberagaman yang telah tertanam kuat dalam budaya masyarakat Bali.
Pura ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, serta menghormati perbedaan agama dan etnis. ***
Baca Juga: Tak Hanya Punya View Indah, Melukat di Jaga Satru Desa Duda Timur diyakini Bikin Panjang Umur