BALI EXPRESS - Pura Beji Dalem Pingit di Gianyar, Bali, merupakan salah satu tempat melukat bagi umat Hindu Bali.
Pura Beji Dalem Pingit menjadi pilihan menarik bagi umat Hindu Bali untuk melukat karena diyakini dapat menyembuhkan penyakit.
Pura Beji Dalem Pingit terletak di sebelah timur Desa Sebatu, Banjar Sebatu, Tegalalang, Gianyar yang berada di kawasan wisata Gunung Kawi.
Uniknya, pura ini ditemukan oleh seorang berkewarganegaraan Prancis pada tahun 2007.
Menurut Jro Mangku Pura Beji Dalem Pingit Sebatu, I Wayan Adi Armika, tamu tersebut terkejut ketika air yang mengalir dari pancoran tiba-tiba berubah menjadi merah darah.
"Waktu itu tempat tersebut penuh semak belukar. Kami yang orang sini saja tidak tahu ada tempat mandi. Dulu hanya sampai air pancoran yang di atas saja," ungkap Jro Mangku Armika kepada Bali Express tahun 2018 silam.
Untuk mencapai Pura Beji Dalem Pingit, umat Hindu yang hendak melukat harus melewati puluhan anak tangga berliku dan curam.
Air panglukatan di Pura Beji Dalem Pingit dipercaya memiliki banyak khasiat.
Jro Mangku Armika menyatakan, air ini bermanfaat untuk pengobatan baik sekala (fisik) maupun niskala (spiritual).
Mitos yang beredar mengatakan bahwa warna air dalam kolam dapat berubah sesuai dengan penyakit yang diderita.
Jika penyakit tersebut bersifat niskala, pamedek bisa mengalami karauhan (kerasukan).
"Sering ada yang datang mengaku sakit tahunan, ketika melukat malah nangis dan berteriak histeris. Dia seperti kerasukan, padahal bukan. Yang berteriak itu penyakitnya,” tuturnya.
Air di tempat melukat ini sangat pingit. Dipercaya dapat melebur segala sesuatu yang buruk, jelek, dan membahayakan.
Selain untuk penyembuhan penyakit, Pura Beji Dalem Pingit juga diyakini untuk memohon keturunan atau mengobati orang mandul.
Banyak pasangan yang belum memiliki anak membuktikan khasiat melukat di tempat ini. Bisanya mereka kembali ke pura untuk membayar kaul (nazarnya) dengan membawa sesajen.
Tidak hanya umat Hindu Bali, warga asing banyak yang melukat di tempat ini dan kembali berkunjung.
Editor : Nyoman Suarna