Sebelum melukat, umat Hindu yang nangkil terlebih dahulu menghaturkan sarana banten pejati maupun canang sari yang dipersembahkan.
Setelah pemangku ngastawayang banten piuning pejati, pemedek diminta untuk melakukan persembahyangan dengan menghadap kea rah pancoran atau padmasana. Semua permohonan disampaikan saat berdoa.
Baca Juga: Melukat di Pura Tirta Sudhamala Bebalang, Mata Air dari Tebing Berusia Ratusan Tahun
Dikatakan Jero Mangku Ketut Kariasa ada Sembilan pancoran di areal Pura Tirta Sudhamala.
Pancoran ini tingginya sekitar 3,5 meter yang disebut Pancoran Dewata Nawa Sanga, sebagai simbolisasi perlindungan Sembilan dewa penjaga mata angin.
Sedangkan ada dua buah pancuran yang lebih rendah ketinggianya yang diyakini sebagai pengelukatan Widyadara dan Widyadari yang biasanya diperuntukan bagi orang yang baru selesai menjalani upacara mepandes atau potong gigi.
Terdapat juga satu buah pancuran yang khusus dipergunakan ketika ada upacara pitra yadnya. Biasanya digunakan oleh masyarakat di Bebalang dalam ritual kematian.
Proses melukat biasanya diawali dari arah utara menuju arah selatan.
Dalam melaksnaakan persembahyangan harus membaw acanang untuk dihaturkan di areal ini.
Saat penglukatan terasa seperti dilakukan pijat refleksi karena ditekan-tekan.
“Banyak kisah kesusksesan pemedek yang nangkil. Ada yang mengalami sakit non medis, astungkara sembuh setelah nangkil beberapa kali, ada yang memohon kelancaran rejeki, karir, hingga keturunan,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika