Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Terbukti Atasi Gering Agung Jaman Dahulu, Pura Taman Beji Kebontingguh Jadi Rujukan Melukat bagi Sakit Non Medis

I Putu Mardika • Jumat, 7 Juni 2024 | 04:45 WIB

 

Pura Taman Beji Kebontingguh, Desa Denbantas, Kecanatan/Kabupaten Tabanan sebagai tempat melukat
Pura Taman Beji Kebontingguh, Desa Denbantas, Kecanatan/Kabupaten Tabanan sebagai tempat melukat
TABANAN, BALI EXPRESS-Bagi masyarakat Tabanan tentu tidak asing dengan penglukatan Pura Taman Beji Kebontingguh, yang terletak di Desa Adat Kebontingguh, Desa Denbantas, Kecamatan/Kabupaten Tabanan, Bali.

Pura ini diyakini sudah ada sejak abad 16 berdasarkan ukiran pada Pelinggih Gedong Agung.

Pasalnya, terdapat ukiran chronograph yang diperkirakan menunjukkan angka tahun pembangunan atau perbaikan pura.

Ukiran dimaksud berupa badan atau angga bernilai 1, senjata cakra (5), burung dan hewan bersayap (6) dan api atau dewa api bernilai (3), sehingga dapat dibaca angka tahun 1563 Caka atau 1641 Masehi.

Pada tahun ini Hindu sudah berkembang di Bali di bawah pengaruh Majapahit.

Butuh waktu tempuh 45 menit dari Kota Denpasar untuk menjangkau Pura Taman Beji Kebontingguh.

Baca Juga: Baru Selesai Potong Gigi, Cocok Melukat di Pancoran Widyadara-Widyadari di Pura Tirta Sudhamala

Jaraknya sekitar 24,5 kilometer dari Denpasar. Lokasi ini juga bisa diakses dengan berbagai moda kendaraan, baik roda dua maupun roda empat.

Saat sampai di areal parkir Pura Taman Beji Kebontingguh, pemedek harus rela berjalan kaki puluhan meter untuk menjangkau pura tersebut.

Namun, di sepanjang perjalanan menuju tempat pelukatan, disuguhkan pemandangan indah rimbunnya pepohonan.

Suasana sejuk dan hijau kian menambah keasrian dari lokasi melukat ini. Pemedek juga disuguhkan oleh berbagai patung kuno berusia ratusan tahun.

Seperti patung lembu (nandini) patung singa bersayap, Macan, badawang, wanara, naga dan patung gajah yang berusia ratusan tahun.

Patung-patung ini juga sudah ditumbuhi lumut, sehingga terlihat hijau. Konon, patung ini sangat disakralkan oleh pengempon dari Pura Kebontinggung, karena ada kaitannya dengan dewa-dewi yang berstana di Pura Kebontingguh. Sebab, sebagai unen-unen Dewa-Dewi di pura ini.

Patung dan relief ini bahkan dipercaya sudah ada sejak tahun 1917. Dari berbagai cerita, patung ini dibuat langsung oleh kelian adat pertama di Desa Kebontingguh. Relief inipun disadur dari cerita kisah Tantri.

Ratu Aji Mangku Tapakan yang merupakan pemangku di Pura Taman Beji Kebontingguh mengatakan, berdirinya pura sudah ada sejak abad 16 masehi, fungsi dari beji sudhamala ini sesuai namanya adalah anyudamala seletuhuing jagat ring Kebontingguh.

Dari cerita para pendahulunya yang ia dengar, dulu pernah terjadi wabah penyakit di desa Kebontingguh. Gerubug tersebut tidak bisa disembuhkan hingga banyak membuat warga mengalami kesakitan.

“Seperti sakit gerubug agung. Nah disanalah ada pawuwus tepatnya di Dalem Kebontingguh supaya sakit gering agung dari penduduk Desa Kebontingguh hilang, maka semuanya harus dilukat,” jelasnya.

Dulu sumber mata air ini belum bernama sudhamala. Hanya masyarakat sudah mengenal dengan nama beji. Setelah dilukat, akhirnya penyakit yang diderita oleh krama desa adat Kebontingguh berangsur-angsur menghilang.

Baca Juga: Melukat di Pura Tirta Sudhamala Bebalang, Mata Air dari Tebing Berusia Ratusan Tahun

Sejak saat itulah, masyarakat Desa Kebontingguh sangat meyakini jika sumber mata air di Pura Taman Beji bertuah.

Karena sudah terbukti dapat mengatasi gering agung yang melanda desa. “Darisanalah muncul nama beji sudhamala.

Dewa-Dewi yang berstana di pura ini adalah Ratu Nyoman Sakti, Ratu Made, Ratu Cening, Ratu Ketut, Dane Jro dukuh, Ratu Gede Gamang.

“Pelinggih Ratu Biang Gede Sakti Sudhamala berupa patung. Kalau beliau turun dari kahyangan dalem kebontingguh beliau menempati sumber air. Dimana kalau beliau tendun ke sumber air, dan bertempat tinggal di jurang utawi pangkung, maka disana beliau diberi nama Ratu Biang Gede Sakti Sudhamala,” ungkapnya.

Pemedek yang nangkil ke pura Beji Sudhamala ini memang dari pelosok Bali. Mereka bertujuan untuk melukat.

Tidak jarang diantara mereka yang sudah mengalami sakit non medis, memohon kelancaran rejeki, hingga karir.

“Ramai yang nangkil saat purnama, tilem, kajeng kliwon. Tujuannya melukat. Karena sudah didengar dari mulut ke mulut jika beliau yang berstana di sini sangat sidhi dan memberikan penganugrahan,” paparnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#melukat #bali #gerubug #Kebontingguh #hindu bali #hindu #pura #Sudhamala #taman beji #tabanan