Di Pura Dalem Goa Batu Pageh, pemedek yang nangkil dari berbagai pelosok Bali bisa melakukan penglukatan. Tujuannya jelas untuk menghilangkan berbagai mala hingga mengobati sakit non medis.
Bersembahyang di Pura Goa Batu Pageh hanya bisa dilakukan ssai melaksanakan persembahyangan di empat pura Pura Taman Sari, Pura Pingit Dalem Segara, Pura Dalem Kepandean, Pura Ratu Gede Dalem Segara.
Jika sudah tuntas di empat pura yang lokasinya berdekatan ini, maka bisa dilanjutkan di Pura Dalem Batu Pageh. Pemedek harus rela menaiki anak tangga untuk menjangkau pura ini.
Sebab, pura ini berada di tebing yang menyerupai goa. Saat memasuki areal tebing, suasana begitu hening.
Meskipun sesekali terdengar suara kelelawar yang bergelantungan di dinding goa.
Namun yang lebih menakjubkan adalah pemandangan Samudra Hindia yang begitu membentang seolah memberikan kedamaian dilihat dari Pura dalem Batu Pageh.
Angin Sepoi yang mengelus tubuh kian membuat betah serta menguatkan vibrasi spiritual pemedek yang nangkil untuk bersembahyangan.
Jro Mangku Ngara menjelaskan Jro Mangku Ngara menjelaskan sebelum sembahyang pemedek bisa terlebih dahulu melukat.
Prosesi melukat dilakukan dengan memohon penyucian di Telaga Waja, lalu dilanjutkan dengan Ida Ratu Dalem Batu Pageh.
Dikatakan Mangku Ngara, keberadaan Air Telaga Waja ini memang unik. Ia muncul dari proses penggalian.
Proses penggalian ia lakukan Bersama sang kakek, ketika sang kakek masih sebagai Janbanggul di Pura Dalem Batu Pageh.
“Berawal saat kakek saya jadi janbanggul. Dulu rata dengan tanah, kemudian digali dan keluar air karena berupa telaga yang begitu jernih. Sehingga banyak yang menggunakan untuk melukat, sakit non medis,” katanya.
Prosesi melukat ini unik. Karena tirta suci diambil dari telaga waja yang tak pernah kering.
Tirta suci ini diyakini dapat melebur segala kekotoran di dalam diri dan meruwat dari sarwa mala, sehingga pemedek yang nangkil disarankan untuk melukat.
Penyembuhan di Pura Telaga Waja itu dilakukan berdasarkan penglukatan. Selain memohon penyucian diri adalah untuk penglukatan.
Seperti bebainan yang berkaitan dengan non medis atau bahkan pungsan.
“Bebai paling kentara. Dia ga akan berani kesana karena kepanasan. Kalau melukat jika kita tidak tahu dia sakit. Bisa pingsan jatuh ke belakang. Makanya sangat berhati-hati,” paparnya.
Mangku Ngara juga tidak menampik jika di pura ini juga terdapat patung Budha tidur.
Namun tidak sembarangan orang boleh masuk ke Payogan, karena sangat disakralkan, dan hanya bisa diantar jika ada petunjuk
“Banyak yang memimpikan, dan memberitahu, katanya batu di depan payogan Beliau adalah Hyang Budha tidur, ada yang membuktikan. Katanya itu linggih Ida Hyang Budha. Sehingga konsepnya disebut Siwa Budha,” sebutnya.
Di Payogan itu adalah Pelinggih Sang Hyang Embang. Kalau orang yang sudah melapskan dengan hal-hal keduniawiaan barulah diijinkan. Itupun kalau ada pawisik atau petunjuk.
Ia menyebutkan saat pujawali, pemedek yang nangkil datang dari berbagai wilayah di Bali.
“Pujawali jatuh pada Jumat Kliwon Sungsang. Pujawali hanya satu hari saja. Tetapi umat Hindu Bali yang nangkil datang dari berbagai pelosok,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika