BALIEXPRESS.ID - Pura Pat Payung, terletak di Pulau Serangan, Denpasar, Bali, adalah salah satu tempat suci Hindu yang memiliki sejarah panjang dan keunikan tersendiri.
Pura ini berada di tengah semak belukar di arah timur menuju Pantai Serangan, dan diperkirakan telah ada sejak 200 tahun yang lalu.
Nama "Pat Payung" berasal dari kata 'Pat' yang berarti empat, dan 'payung' yang berarti peneduh.
Menurut Jro Mangku Ketut Sudiarsa, pemangku Pura Pat Payung, nama tersebut melambangkan empat peneduh arah mata angin: timur, barat, utara, dan selatan.
"Ada juga sejarah yang mengatakan bahwa nama Pat Payung berasal dari seorang juru kunci Kerajaan Majapahit yang melakukan tapa di Pura ini," ungkapnya kepada Bali Express, 2017 silam.
Menurut cerita, ketika Raja Klungkung dan Raja Karangasem berperang, payung milik Raja Klungkung terhempas dan jatuh di Pulau Serangan, tepat di lokasi Pura Pat Payung saat ini.
Piodalan Pura Pat Payung jatuh pada Saniscara Kliwon, Wuku Uye yang dikenal dengan Tumpek Kandang.
Awalnya, pura ini hanya memiliki satu palinggih dari kayu dapdap atau turus lumbung.
Namun, seiring waktu, palinggih di pura ini bertambah menjadi beberapa, termasuk Palinggih Meru, Palinggih Dukuh Sakti, Palinggih Dewa Pat Payung, dan Palinggih Gong.
"Penambahan palinggih dilakukan berdasarkan petunjuk gaib atau pawisik," jelasnya.
Salah satu palinggih yang unik adalah Palinggih Gong. Bermula dari adanya sekaa Gong yang memohon taksu di Pura Pat Payung, instrumen gong di kelompok ini mengalami kejadian aneh, di mana pemainnya jatuh sakit jika tidak distanakan di Pura Pat Payung.
Hingga kini, palinggih ini diyakini sebagai tempat untuk memohon taksu kesenian.
Pura Pat Payung juga memiliki empat bangunan pura lainnya di sekitarnya, yakni Pura Dalem Jawi, Pura Pangayat Ida Dalem Ped di Nusa Penida, Pura Dalem Pesalakan, dan Pura Pat Payung sendiri.
Kawasan di sekitar pura dikenal angker dan diyakini sebagai tempat berkumpulnya wong samar.
Banyak masyarakat tidak berani melawati pura ini saat sore hari karena aura magis yang menyelimuti kawasan tersebut.
Pura ini hanya diempon oleh dua kepala keluarga, yaitu keluarga pemangku pura dan adiknya.
Meskipun begitu, banyak masyarakat yang datang untuk bersembahyang, malukat, dan memohon taksu balian, kesenian, jabatan, serta pengobatan.
Konon, Bhatara di Pura Pat Payung sangat baik dan pemurah.
Sejarah dan Keunikan Pura Pat Payung:
- Nama "Pat Payung": Berasal dari kata "Pat" (empat) dan "payung" (peneduh), melambangkan empat peneduh arah mata angin atau konon dari kisah payung Raja Klungkung yang terhempas di lokasi pura.
- Piodalan: Tumpek Kandang (Saniscara Kliwon, Wuku Uye)
- Palinggih:
- Meru (pangayat Pura Dalem Sakenan)
- Dukuh Sakti
- Dewa Pat Payung
- Gong
- Keunikan:
- Satu-satunya pura di Pulau Serangan dengan palinggih pangayat untuk Bhatara Pura Sakenan
- Diyakini sebagai tempat memohon taksu kesenian, balian, jabatan, pengobatan, dan lainnya
- Memiliki aura magis dan dikenal angker, terutama saat matahari terbenam
- Pusat berkumpulnya wong samar
- Dilangsungkan ritual penglukatan dengan sarana pajati dan bungkak
- Pesan turun temurun: Jangan pindahkan Palinggih Dewa Pat Payung saat pemugaran
Fakta Menarik Lainnya:
- Pura Pat Payung terdiri dari empat bangunan pura: Pura Dalem Jawi, Pura Pangayat Ida Dalem Ped, Pura Dalem Pesalakan, dan Pura Pat Payung.
- Pura Dalem Jawi melarang penggunaan daging babi dalam persembahan karena diyakini sebagai stana ancangan Pura Pat Payung dari Jawa dan berbentuk masjid.
- Masyarakat sekitar kerap melakukan pemujaan di pura ini.
- Pura Pat Payung hanya diempon oleh dua kepala keluarga, namun banyak dikunjungi untuk sembahyang, malukat, dan memohon taksu.
Editor : I Putu Suyatra