Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Suara Kijang di Malam Hari: Isyarat Gaib untuk Warga Bali dari Pura Ratu Gede Sambangan

I Putu Mardika • Jumat, 14 Juni 2024 | 17:25 WIB

Pura Ratu Gede Sambangan terletak di Tejakula, Buleleng, Bali.
Pura Ratu Gede Sambangan terletak di Tejakula, Buleleng, Bali.

BALIEXPRESS.ID – Suara rintihan kijang dari pegunungan di malam hari diyakini menjadi isyarat khusus bagi masyarakat Hindu Bali di Buleleng, terutama warga Tejakula yang berada di sekitar Pura Ratu Gede Sambangan.

Ketika tanda-tanda ini muncul, masyarakat segera waspada dan seringkali mengadakan paruman (rapat adat) karena percaya bahwa bencana akan terjadi di Bali.

Keindahan dan Keajaiban Pura Ratu Gede Sambangan

Pura Ratu Gede Sambangan, terletak di punggung perbukitan yang terjal, menawarkan panorama yang sangat indah.

Hamparan bangunan beratap seng tampak bergerombol di beberapa sudut pura. Dari pura utama, terlihat permandian klasik dengan pancuran air bernuansa kerajaan, menambah suasana magis di area seluas sekitar delapan are ini.

Suara kera dan binatang hutan sesekali memecah kesunyian, memperkuat nuansa sakral tempat ini.

Ritual dan Doa di Pura Ratu Gede Sambangan

Umat Hindu dari berbagai belahan Bali datang ke Pura Ratu Gede Sambangan untuk memohon dan mengadu agar keinginan mereka dikabulkan.

Jero Mangku Taman, Pemangku Pura Ratu Gede Sambangan, sering melakukan makemit (berada di pura hingga larut malam) sambil Ngayu-ayu, memohon keselamatan bagi warga terutama saat status Gunung Agung di Karangasem sedang awas.

Jero Mangku Taman menjelaskan bahwa suara rintihan kijang dari pegunungan adalah tanda khusus jika akan terjadi bencana besar.

"Hingga saat ini, belum ada terdengar rintihan kijang malam hari dari pegunungan di atas pura. Meski jarang bersuara, saya tetap meyakini isyarat itu,” ujar Jero Mangku Taman kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di Tejakula.

Keyakinan dan Tanda Gaib

Meskipun masyarakat semakin skeptis, Jero Mangku Taman tetap mempercayai tanda-tanda gaib ini berdasarkan sejumlah pengalaman.

Sosok Ratu Gede Sambangan yang dipuja umat Hindu kadang menampakkan diri kepada mereka yang memiliki kemampuan indra keenam.

Banyak yang datang ke pura ini untuk memohon kemakmuran dan perlindungan, terutama tentara dan polisi yang bertugas di luar Bali.

Pangempon Pura Guru Arta menjelaskan bahwa prajurit yang bertugas ke daerah konflik sering memohon perlindungan dan izin agar dilindungi lahir batin.

"Prajurit yang bertugas ke daerah konflik pasti memohon perlindungan dan izin agar dilindungi lahir bathin,” ungkapnya.

Tanda Bencana dan Pengalaman Masyarakat

Jero Mangku Taman tidak menampik bahwa suara kijang merintih dari dekat pura pada malam hari adalah pertanda bencana akan datang.

Suara besi terseret dan berdentang di malam hari juga diyakini sebagai tanda Ratu Gede Sambangan 'medal' (menampakkan diri), mengingatkan masyarakat agar waspada.

Suara kijang merintih pernah terdengar pada tahun 1970-an, menjelang tanah longsor yang menelan korban jiwa puluhan orang.

Kijang keramat yang diyakini sebagai ancangan (anak buah) Ratu Gede Sambangan pernah turun dan masuk ke rumah penduduk.

Tiga rumah penduduk yang dimasuki kijang keramat tersebut, keesokan harinya, tiga penghuni rumah itu meninggal dunia.

Pengalaman serupa terjadi beberapa tahun lalu menjelang longsor yang juga menelan korban jiwa.

Suara kijang merintih ini diyakini sebagai tanda-tanda gaib sekaligus isyarat dari Ratu Gede Sambangan. *** 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #tanda #kijang #Pura Ratu Gede Sambangan #hindu #gaib #buleleng