Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kisah Ratu Bagus Aeng di Pura Luhur Pucak Sari, Pelinggih Berupa Bebaturan yang Sangat Disakralkan

I Putu Mardika • Senin, 17 Juni 2024 | 22:43 WIB

Pelinggih Bebaturan di Pura Luhur Pucak Sari Stana Ratu Bagus Aeng yang sangat disakralkan
Pelinggih Bebaturan di Pura Luhur Pucak Sari Stana Ratu Bagus Aeng yang sangat disakralkan
BALIEXPRESS.ID-Pura Luhur Pucak Sari layak direkomendasikan bagi penekun spiritual. Pura ini berada di tengah hutan, Desa Adat Bugbugan, Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Tabanan, Bali. Uniknya, pelinggih utama di pura ini berbentuk batu berundag yang tingginya tujuh tingkatan.

Pura ini bisa diakses dari menggunakan berbagai moda transportasi, baik roda dua maupun roda empat. Akses memasuki jalan pedesaan dengan pemandangan persawahan yang masih asri.

Mendekati areal pura, Umat Hindu yang hendak nangkil harus melewati jalanan yang dirabat beton dengan suasana kawasan hutan yang masih terjaga vegetasinya. Selain itu, sejumlah pohon besar berusia ratusan tahun yang diselimuti kain poleng juga menyambut pemedek yang hendak tangkil.

Umat Hindu harus rela berjalan kaki dari areal parkir menuju pura utama. Pura Luhur Pucak Sari ini memang berada di tengah hutan. Tak mengherankan jika suasana begitu tenang karena jauh dari pemukiman.

Baca Juga: Berhati-hatilah di Pura Ratu Gede Sambangan Buleleng: Tirukan Suara Kijang Langsung Gangguan Jiwa Lalu Meninggal

Jro Mangku Wayan Sudiana sebagai Janbanggul Pura Luhur Puncak Sari menyebutkan pura ini memiliki kisah bahwa dulu tempat ini merupakan tempat seorang raja yang mendapatkan pencerahan.

Konon, pura ini keberadaannya berasal dari sebuah percikan sinar yang jatuh saat Ida Raja Tabanan nangun yadnya di Pura Luhur Batukaru. Saat itu, Raja Tabanan melihat sekelabat sinar yang jatuh.

“Usai menggelar yadnya di Batukaru, diutuslah para punggawa untuk menyelidiki sinar suci itu, karena dulu tidak ada jalan, maka para punggawa menelusuri melalui sungai dimana sinar itu jatuh,” katanya.

Setelah dilaksanakan perjalanan dari Tabanan ke Soka, maka disana ditemukan batu besar menyerupai lumbung. Para punggawa itu bersemedi, dan memutukan bahwa sinar itu tidak jatuh di lokasi batu lumbung.

Perjalanan dilanjutkan dari batu lumbung ke puncak gempon. Punggawa tidak mendapati ciri-ciri jika sinar itu jatuh disana. Akhirnya sampailah di Pucak Sari, disanalah para punggawa mendapat wahyu jika sinar suci jatuh di lokasi itu.

Baca Juga: Suara Kijang di Malam Hari: Isyarat Gaib untuk Warga Bali dari Pura Ratu Gede Sambangan

Seperti pura pada umumnya, kawasan Pura Luhur Pucak Sari dibagi menjadi tiga areal, yakni Nista, Madya dan Utama Mandala.

Pada bagian utama mandala yakni Pelinggih Bebaturan, Meru Tumpang Sia (Sembilan), Pelinggih Ratu Rambut Sedana, Ratu Manik Galih, Ratu Rambut Sri.

“Pelinggih Bebaturan yang terdiri atas tujuh tingkat ini sebagai pelinggih pokok. Beliau yang berstana namanya Ratu Bagus Aeng. Menurut cerita, beliau kesah dari Kerajaan Blambangan,” ungkapnya.

Kemudian Meru Tumpang Sembilan itu adalah pelinggih Pemereman Ida Bhatari Uma. Ada juga Gedong Simpen, Pelinggih Rambut Sedana, ada Bale Agung, pelinggih Watali yang berstana menurut beliau yang turun atau meseseleh di Pura ini Ida Manik Geringsing

Ada Luhur Puncak Gempong, Dalem Senawa. Dalem Senawa, Pucak sari dan Pucak Gempong kalau diterjemahkan secara harfiah.

Dalem Senawa atau tanah humus sebagai kesuburan yang memberikan kemakmuran. Kemudian Pucak Sari atau Sari di Pucuk dan Gempong adalah buahnya. Maka agar buah tidak kemana-mana harus diikat.

Disinggung terkait pujawali yang dilaksanakan di Pucaksari ada yang sifatnya alit dan agung. Piodalan alit dilaksanakan saat enam bulan sekali. Sedangkan piodalan agung dilaksanakan setahun sekali.

Baca Juga: Cerita Keangkeran Kawasan Serangan, Bali: Sejarah dan Kepercayaan Mistis di Pura Pat Payung

“Saat pujawali agung ada tapakan dari duradesa. Ada dari Banjar Sema (Gianyar) Banjar Leba (perean),” imbuhnya.

Prosesi piodalan di Pura Luhur Pucak Sari juga tergolong panjang. Pertama pengempon harus mapekeling selama 11 hari sebelum piodalan. Setelah mepekeling barulah membuatkan sarana upacara yang akan dihaturkan.

Lima hari sebelum puncak karya, ada prosesi nedunang tapakan, pewayangan, Pratima, di kahyangan desa. Setelah melaksanakan memendak Pratima di Luhur Kahyangan Tiga, tiga haru sebelum pujawali dihaturkan maka harus melasti ke segara di areal Pura Luhur Tanah Lot.

“Puncak Karya nyejer selama tiga hari, dimulai pada Buda Umanis Prangbakat dan disibeb pada Saniscara Prangbaka,” paparnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #Pura Luhur Pucak Sari #hindu bali #Ratu Bagus Aeng #hindu #pura #penebel #bebaturan #tabanan