BALIEXPRESS.ID - Palinggih Kepuh Agung, yang terletak di areal Bandara Ngurah Rai, Bali, telah lama dikenal karena keangkerannya.
Banyak umat Hindu Bali, terutama pekerja di bandara dan sekitarnya, mengakui nilai magis tinggi yang dimiliki tempat ini. Hingga kini, tidak ada yang berani mengusik keberadaannya.
Sejarah Palinggih Kepuh Agung
Sebelum akses ke Bandara Ngurah Rai dipindahkan ke sebelah utara, masyarakat sekitar dan pengguna jalan Raya Tuban sangat familiar dengan Pohon Kepuh yang berada di sisi utara jalan.
Namun, meskipun arus lalu lintas berubah setelah penataan ulang bandara, akses menuju Palinggih Kepuh Agung tetap terjaga.
Menurut I Gusti Made Gina, pengempon sekaligus pemangku Palinggih Kepuh Agung, tempat ini bukanlah sebuah pura, melainkan pohon keramat yang dilengkapi beberapa pelinggih.
"Ini bukan Pura Kepuh, tetapi Palinggih Kepuh Agung. Pohon ini bernama pohon kepuh, sedangkan pura terletak di sebelah selatan dan dikenal dengan nama Pura Tegal Melangkang," jelasnya.
Misteri dan Legenda Pohon Kepuh Agung
Mangku Gina menjelaskan bahwa tidak ada yang mengetahui pasti asal-usul Pohon Kepuh Agung ini.
Berdasarkan cerita dari kakek buyutnya, pohon ini sudah ada lebih dari dua abad.
"Yang jelas, pohon ini sudah ada sejak kakek buyut saya," paparnya.
Selama masa penjajahan Jepang, Kepuh Agung berfungsi sebagai markas pengintai tentara Jepang.
Pohon yang tingginya mencapai 20 meter ini dimanfaatkan untuk mengintai musuh yang datang melalui jalur laut.
Selain itu, pohon rimbun ini juga menjadi tempat persembunyian.
Jejak peninggalan tentara Jepang berupa anak tangga yang dipasang di sepanjang batang pohon sudah tidak ditemukan lagi karena termakan usia.
"Pada tahun 1980-an, jejaknya masih ada, tapi sekarang sudah rontok," lanjut Gina.
Legenda Bidadari dan Naga Emas
Menurut legenda, Kepuh Agung adalah tempat permandian para bidadari yang turun ke bumi.
Di areal Palinggih Kepuh Agung terdapat kolam dan air mancur yang diyakini sebagai tempat permandian para bidadari.
Pohon dengan lingkar hingga 24 meter ini juga dipercaya dilingkari oleh naga emas dan dihuni ular poleng (ular belang hitam dan putih).
"Dulu ada lubang di sisi utara pohon yang cukup dalam, namun karena renovasi, lubang itu ditutup dan di atasnya dipasang patung naga dan lelipi poleng," tambahnya.
Kebenaran cerita-cerita ini dikembalikan kepada kepercayaan umat yang bersembahyang di Palinggih Kepuh Agung.
Tempat ini tetap menjadi bagian penting dari warisan budaya dan spiritual di Bali, dengan segala misteri dan kekuatan magisnya. ***