Makna Tetaring dalam Upacara Yadnya dalam Hindu Bali: Bukan Sekedar Peneduh, Antara Modernisasi dan Nilai Budaya
I Putu Suyatra• Kamis, 20 Juni 2024 | 03:15 WIB
Tetaring
BALIEXPRESS.ID - Di tengah derasnya laju modernisasi, tradisi membuat tetaring dalam upacara yadnya di Bali mulai memudar.
Banyak yang mempertanyakan urgensinya, menganggapnya hanya dekorasi atau peneduh semata.
Namun, bagi umat Hindu di Bali, tetaring bukan sekadar dekorasi. Di balik kesederhanaannya, terkandung makna dan fungsi penting sesuai tattwa, yaitu sebagai pelindung jalannya upacara yadnya.
Secara sekala, tetaring memang berfungsi sebagai peneduh dari panas dan hujan.
Namun, secara niskala, tetaring memiliki fungsi sebagai pelindung jalannya upacara yadnya.
Pandangan Modern dan Kearifan Lokal
Akademisi Universitas Hindu Indonesia, Dr. I Made Yudhabakti, menjelaskan bahwa penggunaan tenda dan peneduh lain diperbolehkan, mengingat alasan efektivitas dan produktivitas.
Namun, secara niskala, tenda tidak memiliki fungsi pelindung seperti tetaring.
Meskipun demikian, tradisi tetaring masih dihormati dan dipatuhi oleh umat Hindu di Bali.
Banyak yang meyakini bahwa melanggar tradisi ini dapat menghambat kelancaran upacara yadnya.
Menemukan Keseimbangan
Di era modern ini, penting untuk menemukan keseimbangan antara kebutuhan praktis dan nilai-nilai budaya.
Masyarakat Hindu dapat tetap menggunakan tenda untuk alasan efektivitas, namun tradisi tetaring tetap perlu dilestarikan, terutama saat upacara yadnya dilaksanakan di tempat-tempat sakral.
Tradisi tetaring merupakan bagian penting dari budaya Hindu di Bali.