Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tak Masuk Akal! Sebelum Pelinggih Prapat Punggul didirikan, Perahu Nelayan Sering Tenggelam saat Nyebrang Segara

I Putu Mardika • Jumat, 21 Juni 2024 | 05:18 WIB

Pelinggih Prapat Punggul stana Ida Ayu Gurita di Pura Bakung Desa Adat Lembongan, Nusa Ceningan yang dibangun pasca banyaknya kasus perahu tenggelam
Pelinggih Prapat Punggul stana Ida Ayu Gurita di Pura Bakung Desa Adat Lembongan, Nusa Ceningan yang dibangun pasca banyaknya kasus perahu tenggelam
BALIEXPRESS.ID-Pura Bakung tidak hanya memiliki kisah yang erat dengan tokoh suci I Renggan yang perahunya kampih di Bakung seperti yang tertuang dalam Babad Nusa. 

Pura yang berlokasi di sisi timur Jembatan Kuning, Nusa Ceningan, Desa Adat Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali ini juga dikaitkan dengan beragam kisah mistis tentang kasus tenggelamnya perahu milik nelayan yang telah terjadi berulangkali.

Di balik kisah legenda Nusa Penida, terdapat misteri yang diyakini masyarakat Nusa dengan keyakinan kesakralan Pura Bakung.

Sehingga dikaitkan dengan bencana tenggelamnya perahu nelayan dan kisah kisah tragis lainnya yang di luar nalar.

Baca Juga: Berawal dari Perahu I Renggan Kampih, Begini Kisah Pura Bakung di Nusa Ceningan

Pemangku Pura Bakung, Jro Mangku Made Sugita menjelaskan, ada sejumlah Pelinggih-pelinggih di Pura Bakung. Seperti Gedong Pesimpenan Perahu sebagai simbol dari Perahunya I Renggan.

“Makanya Nusa Ceningan ini sering disebut sebagai Pulau Perahu,” katanya.

Ada juga pelinggih Meru tumpeng tiga, stana Ida Bhatara Panglurah Agung. Ada Pengaruman, Padmasana, Masari, Mascatu, Manjangan Siliwang, Taksu, Sapta Patala, Panglurah.

Kemudian di areal Nista mandala terdapat pelinggih Ida Ratu Gede yang berstana di Pura Dalem Peed. Sedangkan di Pohon Kebah stana Ida Sang Banaspati Raja.

Terdapat juga Pelinggih Gagak Ireng, sehingga saat pujawali agar ada klecan atau tabuh rah.

Selanjutnya di Pura Bakung berstana Ida Ayu Gurita di Prapat Punggul Kaler.

Baca Juga: BISA DICOBA BAGI YANG SERET KETURUNAN: Larangan di Pura Ini Sangat Tak Biasa bagi Umat Hindu Bali, Diyakini sebagai Tempat Mohon Keturunan

Diceritakan Mangku Made Sugita, Ida Ayu Gurita di Prapat Punggul dahulu sering membencanai masyarakat saat hendak nyebrang segara.

“Dulu sering ada masyarakat yang nyebrang segara, kemudian perahunya tenggelam, banyak makan korban,” sebutnya.

Karena kasus perahu tenggelam yang sering terjadi, akhirnya di balik kepasrahan masyarakat Ida Ayu Gurita pun memberikan petunjuk.

Akhirnya masyarakat mendapat pawisik dari beliau, agar dibuatkan pelinggih stana Ida Ayu Gurita sekitar 2013-2014. Dan benar saja, setelah dibuatkan pelinggih, peristiwa tenggelamnya perahu saat nyebrang nyaris nihil terjadi.

Pelinggih Ida Ayu Gurita Prapat Punggul ini berada di bawah pohin. Uniknya, pohon tersebut berlubang yang cukup besar.

“Diyakini di dalam pohon yang berlubang inilah stana Ida Ayu Gurita bertana,” jelasnya.

Ditanya terkait tatanan persembahyangan, Mangku Sugita menjelaskan jika persembahyangan diawali dari Jaba sisi atau Nista mandala, yakni Pelinggih Prapat Punggul.

Baca Juga: Berada di Bawah Tebing, Pura Batu Banglas ini Berisi Goa yang Tembus di Batu Melawang di Nusa Ceningan

Dilanjutkan pada pelinggih Ida Ratu Gede, karena beliau sebagai Tabung Wijang, agar diberikan ijin.

Persembahyangan dilakukan di pelinggih Ratu Gede Dalem Peed. Persembahyangan terakhir di Jeroan, tepatnya di Utama Mandala Pura Bakung.

Meski pura ini diempon oleh 42 kepala keluarga, tetapi pada saat pujawali umat Hindu yang nangkil ke pura ini berasal dari semua penjuru Nusa Penida, Nusa Ceningan, Bali hingga Lombok nangkil untuk sembahyang.

“Saat pujawali sudah pasti sangat ramai. Mereka dari berbagai pelosok Bali. Ada yang lewat Sanur, Kusamba untuk mengakses pura ini,” tutupnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #I Renggan #Lembongan #nusa ceningan #hindu bali #hindu #pura #klungkung #nusa penida #segara #perahu