Sebab, dalam wuku ini, orang yang lahir dari rentang hari Redite (Minggu) sampai Saniscara (Sabtu) kerap melakukan ruwatan yang disertai dengan pementasan Wayang Sapuh Leger.
Jro Dalang Putu Ardiyasa mengatakan ruwatan bagi orang yang terlahir pada wuku wayang secara mitologi banyak diulas dalam Lontar Kalatattwa.
Dalam naskah ini tokoh utama Bhatara Kala yang merupakan lakon cerita tentang pengruwatan yang sering dipentaskan saat sapuh leger.
Pria asal Selunglung, Kintamani ini menjelaskan, meruwat disamakan dengan memulihkan kembali keadaan benda, makhluk hidup, ataupun manusia.
Selain memulihkan kembali juga diartikan bebas lepas dari segala mala, kotoran, leteh, atapun yang sejenisnya.
Baca Juga: Lahir di Wuku Wayang? Cobalah nangkil dan Melukat di Pura ini, Bisa Ikuti Nyapuleger sebagai Ruwatan
Terkadang pengruwatan diyakini sebagai sarana untuk mendapatkan hidup yang lebih baik, tentunya melalui ritual pengruwatan yang dijalankan dan dipercayai.
Sejatinya ada tiga jenis pertunjukkan wayang yang mendapat kedudukan istimewa. Diantaranya Wayang Sapuh leger, Wayang Lemah, dan Wayang Sudamala.
Ketiganya dianggap istimewa karena sakral dan memiliki fungsi ngruwat.
Namun diantara ketiga wayang itu, wayang sapuh leger yang dikatagorikan paling istimewa.
Pasalnya, Wayang Sapuh Leger menggunakan repertoar khusus yakni Bhatara Kala, suatu mitos yang diyakini ada dan sangat menakutkan serta berbahaya
“Wayang Sapuh Leger wajib dilengkapi dengan sesajen (banten) yang secara khusus meliputi pohon pisang (gedebong) berikut buah jantungnya. Serta berbagai sesajen lainnya sebagai pelengkap inisiasi dalam pertunjukan wayang Sapuh Leger,” kata Jro Dalang Ardi.
Wayang Sapuh Leger sebutnya hanya boleh dipergelarkan oleh seorang dalang yang telah disucikan seperti Ki Mangku Dalang atau Sang Mpu Leger.
Termasuk wajib memahami isi lontar Dharma Pewayangan dan lontar Sapuh Leger.
Dalam proses Bebayuhan Weton Sapuh Leger, ada sejumlah sarana yang digunakan.
Yakni Ngadegang Sanggar Tuttuan atau sanggar Tawang, Ring Sor Surya Caru mancasata, Banten Panebasan san Maweton, Banten arepan Kelir, Ring Lalujuh Kelir.
Kemudian Banten Sang Dalang Mpu Leger, Bebangkit Asoroh, Genah tirtha Mpu Leger, Sangku Suddhamala
Ada pula sarana Tebasan Sungsang Sumbel, Tebasan Sapuh Leger, Tebasan Tadah Kala, Tebasan Penolak Bhaya Tebasan Pangenteg Bayu, Tebasan Pengalang Hati, Sesayut Dirgayusa ring Kamanusan.
Selanjutnya Daksina Panebusan Bhaya, Medudus Luwun setra lan luwun pempatan, luwun pasar, Gumpang injin gumpang ketan, gumpang padi, rambut Ida Pandita lan menyan, Suci pejati lan segehan panca warna ditempatkan di pane.
Baca Juga: Pemedek yang Lahir Saat Wuku Wayang Tangkil untuk Melukat
“Semua proses ini dilakukan didepan angkul-angkul atau pintu masuk, baru dilanjutkan dengan pelukatan atau pembersihan secara bersama-sama di depan pintu masuk rumah,” ungkapnya.
Dalam proses tersebut, ada Tirta pemuput yang digunakan.
Diantaranya Tirta Kelebutan, Tirta Campuan, Tirta Segara, Tirta Melanting, Tirta Pancuran, Tirta Tukad Teben Seme/Setra, Tirta Padmasari ring Sekrtariat, Tirta Merajan soang soang, Tirta Pengelukatan Wayang, Tirta Jagat Nata, Tirta Pemuput/ Sulinggih. (dik)
Editor : I Putu Mardika